Selasa, 17 April 2018

Gerakan Donasi Penghafal Qur'an Yatim / Berprestasi

Bismillah


THE VOLUNTEERS adalah komunitas yang bergerak dalam dunia Islam dan kemanusiaan. Kali ini kami memperkenalkan program kami khusus untuk Penghafal Qur'an.

Dengan berdonasi minimal Rp 50.000,- perbulannya dalam Program Komunitas THE VOLUNTEERS khusus untuk BEASISWA SANTRI TAHFIDZ QUR'AN dengan rekening donasi BNI SYARIAH 077.2018.113 an THE VOLUNTEERS ini akan menjadi jariyah bagi Anda di Alam Barzakh. Bagaimana tidak, setiap mereka berusaha menghafal, Anda akan dapat terus transferannya. 

Pun setiap mereka murojaah. Anda dapat juga. Bahkan seumur hidupnya mereka pakai hafalannya berarti transferan ke rekening Anda unlimited.

Karena Anda membiayai mereka. Anda memudahkan mereka menghafal. Bahkan ketika mereka mengajarkan hafalannya. Insya Allah pahalanya nyambung terus!

Saat ini THE VOLUNTEERS sedang membiayai 5 Penghafal Qur’an Yatim / Berprestasi dan insya Allah akan terus menambah penerima beasiswa dimana setiap santri dibutuhkan biaya sekitar Rp 750.000,- perbulan.


Mari Berbagi Jariyah sebagai Jaminan Kita di akhirat Kelak

Jika ingin info lebih lanjut silahkan  hubungi  082190196347 (WA) an KHAIRULLAH


BarakAllah



Semoga Allah ridha atas ikhtiar kami dan selalu memohon penjagaan Allah, kami mengajak para donatur untuk mengambil bagian melalui harta yang Allah titipkan.

Kirim Donasi ke

BNI Syariah
No.Rek 077.2018.113
a.n. THE VOLUNTEERS

Konfirmasi Donasi melalui +6282190196347 (WA)

Terima kasih & Jazakumullah

TIM THE VOLUNTEERS

Minggu, 25 Februari 2018

stigma yang salah tentang Bipolar


ini adalah kejadian dan pengalaman yang saya alami sendiri bagaimana pandangan orang dan termasuk saya sendiri tentang bipolar yang saya idap karena kurangnya pengetahuan maka dari itu saya selalu meletakkan bipolar saya sebagai sebuah kotak yang berada di depan saya untuk di pelajari, diamati, dan didampingi.
* Bunuh diri karena kurang iman
* Depresi karena kurang shalat
* Cemas karena kurang sujud dalam shalat
* malas karena....
* tidak bertanggung jawab karena....
* suka bikin sensasi karena.....
* tidur berlebih karena ......
padahal dua fase yang terjadi pada individu bipolar yang membuat kadar dopamin di otak berkurang dan berlebih dmana pada orang normal tidak terjadi kekurangan dan kelebihan.
Hal inilah yang membuat individu bipolar kadang menjadi malaikat dan kadang menjadi iblis. Jika Anda tidak memahami maka Anda akan ikutan jadi iblis juga karena saya sudah tahu bahwa saya kadang jadi iblis dan kadang jadi malaikat karena masalah dopamin itu bukan karena cari sensasi
situ waras?

Saya Mengidap Gangguan Cemas (Bipolar) Alasan Utama Saya Meninggalkan Kementerian Luar Negeri





Keluar dari Kementerian Luar Negeri, butuh pemikiran panjang dan waktu yang lama hingga saya berhasil menuliskan catatan ini. Ada beberapa alasan yang mengharuskan saya menulis catatan ini. Pada awalnya, mungkin hanya keluarga dan teman terdekat saya saja yang berkepentingan untuk mengetahui alasan detil mengapa saya meninggalkan Kementerian Luar Negeri, namun seiring waktu saya sadar dan faham bahwa adalah sebuah kewajaran jika orang ingin mengetahui alasan tersebut dikarenakan tempat kerja yang telah saya tinggalkan merupakan impian dari puluhan ribu anak di negeri ini. Ada sebuah tanggung jawab moral mengapa saya menuliskan catatan ini, karena ada banyak harapan yang diamanahkan kepada saya pada saat memilih berkarir di Kementerian Luar Negeri.

Alasan utama saya meninggalkan Kemlu karena saya telah menemukan bahwa passion saya bukan disana dan keputusan tersebut dibuktikan dengan hasil dan diskusi comprehensive dengan psikolog dan psikiater. Mungkin bagi sebagian orang hal tersebut berlebihan namun saya menginginkan dalam pengambilan keputusan benar-benar terlepas dari intervensi pihak yang berkepentingan sehingga Kemlu dan saya akhirnya memberikan wewenang kepada Tim Dokter untuk menganalisa kejadian yang saya alami yang akhirnya menyampaikan segala kemungkinan apabila saya tetap bertahan di Kemlu begitupun sebaliknya.

Dan pada akhirnya Hidup adalah Sebuah Pilihan, teman saya pernah berkata tak ada kemenangan yang sejati dalam hidup. Terkadang kita berhasil dalam sesuatu hal tetapi ada bagian lain yang harus kita lepaskan. Saat memilih berkarir sebagai diplomat di Kemlu saya bak memenangkan sebuah pertarungan hebat namun di sisi lain saya melepaskan kehidupan saya bersama keluarga tercinta di Palu, teman dan sahabat yang pada akhirnya saya tidak bisa memenangkan dan mendapatkan semuanya. Sungguh bukanlah hal yang mudah untuk meninggalkan pekerjaan sebagai diplomat namun saya harus jujur dan berani bahwa saya tak menemukan passion saya disana. Memilih untuk keluar dengan sebuah konsekuensi dikepung dengan berbagai pertanyaan dan rasa heran dari berbagai pihak terkait keputusan ini.

Saya menyadari bahwa pada dasarnya tidak ada yang salah dengan pertanyaan dan keheranan tersebut. Di negeri ini siapa yang tidak mengenal Kementerian Luar Negeri, harus diakui bahwa tempat tersebut adalah impian ribuan orang di negeri ini, pekerjaan yang baru saya tinggalkan memiliki nilai kehormatan tinggi. Bahkan sahabat, sepupu dan adik-adik saya adalah orang-orang yang memiliki keinginan untuk berkarir di Kemlu. Sungguh bukan hal mudah memberi mereka alasan, bagaimanapun pasti mereka kecewa.

Kerap kali saya berhadapan dengan orang-orang yang begitu bersemangat dan penuh gairah untuk meraih mimpi mereka berada di tempat tersebut, bagi mereka menjadi diplomat seolah menjadi satu-satunya cita-cita yang pernah ada dalam hidup. Saya pun menyadari bahwa keputusan yang telah saya ambil sedikit banyak telah membuat mereka kecewa. Namun, siapapun itu harus bisa menghargai ketika ada orang lain yang lebih memilih jalan hidup yang mereka anggap pantas bagi mereka. Saya hanyalah orang yang mencoba memandang hidup bahwa ada hal yang jauh lebih berarti dibandingkan sebuah kehormatan dan nilai prestisius lainnya, yakni kesehatan jiwa dan kelangsungan hidup yang lebih baik, inilah alasan utama sehingga saya menempuh proses panjang tanpa lelah.

Harus berani saya katakan bahwa KEMLU dan JAKARTA bukanlah tempat yang bisa menjamin kedua hal tersebut bagi saya. Ada hal-hal yang menjadi prioritas dalam hidup saya yang tidak akan tergeser oleh kepentingan apapun. Semoga pernyataan ini turut pula menjawab rasa penasaran dari beberapa pihak dan saya berharap bisa diberikan pemakluman dari semuanya.

Keputusan untuk meninggalkan KEMLU adalah sebuah proses panjang dan berliku, hampir 2 tahun saya berjuang untuk sebuah “kebebasan” saya, sungguh bukan hal yang mudah. Diawali bagaimana meyakinkan diri saya sendiri bahwa ini adalah langkah yang terbaik bagi saya yang harus saya ambil, lantas bagaimana saya harus bertanggungjawab kedepannya, bagaimana saya harus beradaptasi dengan proses birokrasi yang lumayan rumit, sampai pada bagaimana saya harus menghadapi pertanyaan dan keheranan orang-orang pun tak luput dari pertimbangan saya.

Alhamdulillah Allah masih menunjukkan kebesaranNya lewat berbagai kemudahan dan kelancaran dalam proses ini .

Dulu seorang sahabat pernah berkata bahwa dibutuhkan keberanian tak hanya untuk maju berperang, namun keberanian dibutuhkan saat harus berkompromi pada diri sendiri tentang bagaimana semestinya kita mencari bahagia itu sendiri. Tak ada yang salah dengan KEMLU, hanya sayalah yang TAK tepat untukMU. Saya yakin kamu masih pantas menjadi impian bagi ribuan anak negeri ini. Kau telah menjadi salah satu “guru” kehidupan saya untuk diterapkan di kemudian hari. Didikanmu adalah sebuah pengalaman emas yang sangat bernilai, pernah menjadi bagian dariMU adalah sebuah syukur pribadi pada Allah.

Saya pun menyadari bahwa Tuhan mengatur kehidupan ini pada titik mana kita pantas untuk berdiri, bersabar, bersyukur, hingga berpindah agar kita bisa belajar menemukan kebahagiaan sebagai sebuah proses yang terhargai. Bersyukur atas nikmatNya bukanlah sikap pasif melainkan berusaha menemukan solusi terbaik namun dalam proses pencarian tersebut kita patutlah selalu bersabar. Inilah proses yang memberi saya pelajaran berharga dalam hidup.

Dan pada akhirnya saya memutuskan untuk “pulang” dan mohon doa agar bisa berbakti bagi bangsa dan Negara tercinta. Bakti cinta dan pengabdian saya pada negeri ini akan terus bertambah subur lewat pengabdian di masa mendatang. Terima kasih KEMLU ðŸ˜‡

Saya dan Gangguan Bipolar

Didiagnosis dengan gangguan Bipolar pada 2013 menjelang keberangkatan sekolah ke Australia karena adanya dorongan bunuh diri tanpa sebab di Pulau Dewata, Khairullah Herul Abdul Razak vokal menyuarakan perjuangannya hidup dengan depresi berat, gangguan mood swing berubah drastis dalam waktu singkat, dan kemauan untuk menyakiti diri sendiri.
Sebelum didiagnosis, Herul menghabiskan banyak waktunya dalam kesedihan, mengurung diri. Kadang, bahkan tak ada kemampuan untuk bangun dari tempat tidur. 
Dalam beberapa kasus, diperlukan bertahun-tahun sebelum bipolar diidentifikasi dengan benar. Herul pun mengalaminya. Dalam masa beratnya sebelum didiagnosis, teman-teman dan keluarganya mengatakan bahwa ia hanya depresi, dan karena kekurangtahuan Herul dan orang-orang terdekat, fase manik tidak dikenali. Jutaan orang lain pun sama, tidak mengenali fase manik.
Dalam periode manik, Herul bisa tidak tidur hingga jam 2 pagi sambil menulis, banyak tulisan bisa dituliskannya dalam semalam. Pada fase ini, pikirannya tidak pernah diam. Ini adalah gejala umum bipolar disorder. 
Setelah didiagnosis, Herul lega. Menyadari bahwa gangguan bipolar bisa diobati dan diterapi. Bahwa tidak ada yang salah dengan dirinya, emosi dan tindakannya juga adalah karena faktor ketidakseimbangan kimiawi otak,
Pemulihan tiap hari. Herul terus melangkah, memahami hidup dengan gangguan bipolar. Dibutuhkan sabar dan usaha yang berkelanjutan. Jiwa bukan mesin, yang bisa sehari diperbaiki. 
"Saya sangat bersyukur atas hidup saya hari ini. Tidak mudah untuk selalu mengambil langkah positif setiap hari, tapi saya tahu saya harus tetap sehat. 

Jika Anda sedang berjuang dengan kondisi kesehatan mental, Anda mungkin belum bisa melihat dengan jernih, tapi, Tolong jangan menyerah. Semua akan menjadi lebih baik. Anda berhak untuk dapatkan hal-hal baik, Dan banyak orang yang bisa menolong. Meminta pertolongan orang lain adalah tanda kekuatan."

Blak-blakan tentang Bipolar


Mengapa saya bersuara tentang Gangguan Bipolar yang saya idap karena ada banyak pertimbangan yakni:
1. Dibutuhkan waktu lebih dari 7 tahun dalam penanganan dokter jiwa dan psikolog hingga baru bisa ditemukan kalau saya mengidap bipolar;
2. Stigma tentang Bipolar atau gangguan mental lainnya bagi masyarakat umum yakni: kurang iman, kurang shalat, kurang bersyukur, aib dan masih banyak stigma lainnya yang harus pelan-pelan dicerahkan pada masyarakat bahwa ini tentang gangguan di otak bukan tentang perasaan yang dibuat-buat atau prilaku dilebay-lebaykan;
3. Saya ingin suatu saat nanti orang-orang dengan gangguan jiwa bisa mengakses bantuan profesional, kita bisa berbicara dengan jujur apa yang kita alami tanpa dihakimi, dan lingkungan sekitar teredukasi dan sadar tentang gangguan jiwa;
4. Ketika memiliki gangguan, masyarakat bisa tahu kemana mencari bantuan karena "Mereka yang datang meminta bantuan profesional; sadar kalau ada hal dalam diri mereka harus diperbaiki";
5. Senyawa kimia yang tidak seimbang di otak yang membuat individu dengan bipolar mengalami mood yang berubah drastis, depresi dan maniac (bahagia dan semangat berlebih) tanpa sebuah sebab. Layaknya jika mengidap sakit jantung maka kita akan memilih perawatan yang tepat, begitupun dengan bipolar.
Dalam hal ini saya tidak merasa kurang, hancur, dan memalukan dengan mengidap bipolar!

Gerakan Donasi Penghafal Qur'an Yatim / Berprestasi

Bismillah THE VOLUNTEERS adalah komunitas yang bergerak dalam dunia Islam dan kemanusiaan. Kali ini kami memperkenalkan program kami khusus...