Tampilkan postingan dengan label Aussie Journey. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aussie Journey. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 April 2015

List Thing To Do Before the Departure to Australia

Inilah beberapa hal yang musti dipersiapkan untuk keberangkatan ke Australia (Adelaide)

Untuk cek lis, berikut adalah yang harus dipertimbangkan sebelum berangkat (kutipan dari email mbak Atik, pengurus PPIA)

1. Memperoleh konfirmasi masalah akomodasi sementara (alamat lengkapnya, nama pemiliknya dsb.)

2. memeroleh kepastian akan dijemput oleh siapa di bandara. Ini bisa dengan terus berkomunikasi dengan ISSU dan PPIA. 

3. Membuat salinan (scan dan photokopi) visa, passport (halaman identitas), ijazah yang dilegalisir. Sebagai tambahan semua dokumen penting di Indonesia discan karena bisa saja sewaktu-waktu dibutuhkan di Australia seperti ATM, Buku tabungan, ijazah, dan transkrip. Dalam hal ini saya pernah kejadian Internet Banking saya terblokir sehingga saya harus mengurus buka blokir melalui email dan mengirimkan scan KTP, buku tabungan, ATM. Untungnya saya sudah menyiapkan semuanya dari Indo.

4. Membawa uang cash sedikitnya 400AUD untuk berjaga-jaga jika establishment cost tidak cair dalam waktu 3 hari, meski ini jarang terjadi. 

5. Baju yang sesuai dengan musim kedatangan (misal datang pas summer, cukup bawa baju seperti yang kita pakai sehari-hari di Indonesia. kalau datang pas winter, persiapkan beberapa baju hangat).

6. Tidak perlu membawa baju terlalu banyak, karena membeli baju second-hand di op-shop banyak sekali, dan sangat terjangkau harganya (kecuali kalau keberatan memekai baju second-hand).

7. Bawa obat-obatan pribadi, dimasukkan jadi satu ke dalam kotak kecil.Nanti di-declare di bandara. 

8. Kalau bisa, bawa baju daerah, siapa tahu bisa dipakai untuk acara-cara kenegaraan :) kan sekarang jadi duta negara endonesa :P

9. Kalau suka backpacking, backpackk mendingan beli di Indonesia (menurut saya), karena jauh lebih murah dan kualitasnya ngga kalah bagus (malah lebih bagus mungkin). Kecuali kalau ingan nyari 'brand' :)

10. Soal makanan, tidak susah-susah amat kok untuk survive di Adelaide. Bahan makanan untuk masak makanan Indonesia juga gampang. Sudah ada toko khusus makanan Indo dan warung makan Indo

11. Aktifkan Internet Banking salah satu bank Indonesia biar bisa lancar bertransaksi banking selama di Australia karena pengalaman saya kadang saya harus beli pulsa untuk keluarga di Indonesia, membayar tagihan di Indonesia dan mentransfer ke beberapa rekening di Indonesia.

12. karena di Australia kita seringnya mkan siang di kampus boleh bawah lunch box tupperware dari Indonesia karena kualitasnya juga bagus dan handy

13. Jika memiliki penyakit tertentu yang mengharuskan mengkomsumsi obat harap bawah sesuai masa study sebelum balik liburan ke Indonesia. Misalnya saya nih setahun di Aussie nanti setelah setelah setahun baru balik liburan jadi usahakan bawah stock obat untuk setahun. Lengkapi obat tersebut dengan surat pengantar berbahasa Inggris dari pihak orang farmasi.

14. Jika memiliki disability harap segera melapor ke pihak uni dan AAS Jakarta karena ada beberapa reasonable adjustment yang harus dilakukan dan Disability Support Agreement yang harus ditandatangani. Hal ini sangat membantu bagi teman-teman yang memiliki disability agar pihak kampus aware dan pihak AAS menyiapkan funding tambahan untuk mengcover biaya ekstra tersebut. Disability dalam hal ini cacat fisik, gangguan mental, learning difficulties, emotional disturbance dan intellectual disability dan disability lainnya yang kiranya berdampak terhadap proses adjustment di Australia dan akademik.


15. Ini penting gak penting nih (hehehe) jangan lupa bawah adaptor khusus untuk colokan Australia karena di Adelaide juga ada tapi biasanya pas datang gak ada waktu untuk ke toko untuk beli dan biasanya barang2 elektronik kayak HP lagi lowbet n pas tiba di Aussie udah capek banget berikut colokan Aussie 
Adaptor tampak dari depan (kepala colokan Indo)



 tampak belakang  dari colokan Aussie bisa di dua mata atau tiga mata


Selanjutnya jika barang elektronik Anda lumayan banyak dari Indo baiknya lebih bagus bawah colokan ganda kayak gini nih biar colokan elektronik Indo Anda gak perlu masing2 adaptor jadi 1 adaptor aja nanti dicolok di colokan ganda ini 
colokan ganda Indo

Sekian dull info dari saya nanti diupdate lagi....

silahkan juga baca tulisan saya hari-hari pertama di Adelaide pada link berikut

dan masa masa penyesuaian di Adelaide di sini klik

Semoga membantu

Salam

Salam Saya, 

Khairullah (Herul) Hisyam Abdul Razak
Master of Special Education
Sturt Road, Bedford Park | South Australia | 5042
GPO Box 2100 | Adelaide SA 5001
Email: raza0017@flinders.edu.au
Mobile: +61450-191414

Senin, 03 Februari 2014

Mengapa Saya Sangat Memimpikan Kuliah di Luar Negeri?

Pertanyaan ini banyak ditanyakan orang lain bahkan orang-orang sekitar saya tentang mengapa saya ingin dan sangat mendambakan kuliah di luar negeri. Di tengah pekerjaan yang bagus, keluarga dan semua sudah settle down saya masih tetap mendambakan kuliah di luar negeri. Apa hebatnya kuliah di luar negeri itu. Setelah hampir sebulan menginjakkan kaki di Adelaide, Australia Selatan baru saya kembali menyempatkan menulis alasan ini. Jalan-jalan dengan sebuah pengalaman baru adalah impian saya.



Kuliah di luar negeri adalah impian saya sejak kecil. Saya bukanlah anak orang kaya, atau anak yang berotak encer di dalam keluarga dan di sekolah namun saya berani bermimpi untuk sekolah ke luar negeri.  Impian ini saya pelihara, saya perjuangkan dan tiada satupun yang bisa menghalangi saya kecuali ALLAH dan saya  berusaha mengejarnya perlahan-lahan namun berkelanjutan. Serupa binatang dibawah tanah yang tetap menggali goa khusus dengan tenang meskipun lambat semuanya kulakukan demi meraih impian itu. Saya tidak pernah menyatakan ke orang-orang kalau saya ingin kuliah di luar negeri saya paling takut dengan mendahului kehendak Allah. Saya lebih memilih untuk berusaha dengan tenang dan diam-diam namun diiringi konsistensi untuk memperjuangkan mimpi.

Saya selalu berfikir di luar kebanyakan orang lain fikirkan. Sesuatu yang hampir mustahil diimpikan oleh anak kampung di sebuah desa Soni, Kecamatan Dampal Selatan, Kabupaten Toli-toli Sulawesi Tengah untuk bermimpi sekolah ke luar negeri namun itu saya lakukan. Saya adalah pemimpi hebat. Segala apa yang saya impikan akan saya usahakan meskipun saya tahu saya termasuk slow learner. Namun sikap kegigihan saya untuk terus mencoba menghantarkan saya meraih mimpi ini.



Film-film tentang bagaimana kuliah di luar negeri selalu menginspirasi saya. Tinggal jauh dari kampung halaman, merasakan kehidupan mixed culture, bahasa yang berbeda, sistem pendidikan berbeda dan penyesuaian yang dituntut tinggi membuat saya ingin merasakan atmosfir itu serasa berada disana. Saya ingin duduk bersama orang-orang hebat negeri ini. Bisa merasakan sistem pendidikan di luar negeri. Bisa membagikan cerita ini kepada teman dan kerabat merupakan pengalaman dan kekayaan yang tak ternilai.


Saya ingin merasakan kultur budaya lain, saya ingin mengasah kemandirian saya, saya ingin bebas dari hidup sebagai A dengan embel-embel keluarga dan sebagainya di tempat kelahiran saya. Saya ingin menjadi orang yang tidak dikenal siapa-siapa lalu menjadi diri sendiri dan mengeksplorasi kemampuan saya melalui hubungan dengan teman-teman dari berbagai negara, menyenangkan sangat menyenangkan menjadi diri sendiri dan justru di negeri rantaulah saya bisa menjadi diri sendiri.


Saya ingin berbincang tentang permasalahan di Timur Tengah dengan orang asli dari sana, saya ingin menanyakan bagaimana hidup di Afrika dan keindahan wisata di Asia. Kapan lagi saya bisa bertemu dan berdiskusi dengan teman dari berbagai negara yang berbagai anak bangsa hadir untuk kuliah di kampus ini. Yang saya impikan dulu kini telah tercapai. Saya ingin merasakan sensasi hebat itu melalui pergaulan internasional sehingga menambah kepekaan dan toleransi saya.

Sisi kedekatan saya dengan Allah juga banyak diuji di negeri rantau ketika tak ada lagi keluarga yang mengingatkan kapan waktu sholat bagaimana menjalankan ajaran Islam di negara seperti Australia. Saya selalu merasa dekat dan diawasi Allah. Saya menjadi pribadi yang sangat takut kehilangan Allah dan lupa padaNya karena disini saya bukanlah siapa-siapa. Saya merasa sendiri tapi dengan mengingat Allah saya tidak sendiri. Saya lebih aktif mengikuti kegiatan agama Islam dan sholat saya usahakan tepat waktu dan sebisa mungkin berjamaah di kampus. rasanya syahdu sekali mengingat Allah ditengah-tengah keadaan serba terbatas dan minoritas.



Disini saya lebih mencintai negeriku sendiri. Saya merasakan betapa nikmatnya matahari bersinar sepanjang tahun disertai musim hujan. Kita bisa hidup tanpa AC dan heater yang mustahil bisa kita lakukan di Australia. Disini, saya mengenal negeriku, bergabung bersama saudara-saudara dari Sabang sampai Merauke. Kami satu semua anak Indonesia. Tak ada lagi sekat saat di negeri orang antara Sulawesi, Jawa, Sumatera dan Papua. Kami bahu membahu layaknya keluarga dekat untuk menguatkan ikatan untuk bertahan di rantau demi sebuah cita-cita bersama.

Mimpi yang sederhana, sekolah ke luar negeri disinilah dimulai, di kampus ini, Flinders University, kampus impian saya. Kampus yang saya perjuangkan dengan giat untuk berada disini dan di jurusan yang telah lama saya impikan dan akhirnya saya memang harus kuliah disini. Master of Special Education merupakan major impian saya. Ini yang betul-betul dikatakan dream comes true.

Sekarang saya menikmati sensasi deadline paper, ketidakmudengan dengan pembicaraan dosen di kelas, angin kencang Adelaide dan musim panasnya yang mencapai 45 C.. semua harus saya nikmati sebagai konsekuensi pilihan saya untuk kuliah di luar negeri.

3 Februari 2014, Adelaide, Australia

Herul

Rabu, 29 Januari 2014

Memetik Manfaat dari Pertukaran Pemuda Indonesia Australia

Di kalangan masyarakat umum melakukan hal yang anti-mainstream merupakan hal yang tidak lazim salah satunya adalah ikut kegiatan pertukaran pemuda antar negara. Di luar sana ketika saya terpilih mewakili Sulteng dalam Australia Indonesia Youth Exchange Program AIYEP tak sedikit pandangan negatif bahwa hal tersebut hanya buang-buang waktu, membuat lambat selesai kuliah dan sederetan alasan lainnya. Entahlah mungkin di mata orang tersebut hidup itu hanya dilahirkan, sekolah baik-baik, kuliah dengan IPK tinggi, kerja jadi PNS, menikah selanjutnya beranak pinak dan mati. Mungkin itulah siklus hidup seorang yang pada umumnya.

Saya selalu ingin membuat jalan hidup saya sendiri. Sendiri, yah sendiri dengan cara saya sendiri bukan didikte dari siapapun, ingin keluar dari mainstream orang Palu kebanyakan dan saya ingin melihat dunia, mengamati perbandingan budaya dan menikmati sensasi travelling. Sungguh, saya bisa terheran-heran dibuat bagaimana seorang yang tajir tidak pernah travelling. Come on! hidup itu cuma sekali, lihatlah dunia yang luas ini dan kau akan kaya pengalaman dan jiwa.

Perubahan cara pandang saya melihat hidup menjadi lebih simple merupakan manfaat dari mengikuti Pertukaran Pemuda. Saya melihat hidup lebih sederhana dimana dulu saya melihat segala sesuatunya begitu ruwet. Sekarang ini hidup bagi saya adalah sebuah perjalanan singkat yang harus kita warnai seindah mungkin dengan pengalaman yang banyak. Nah bayangkan kalau kertas perjalanan saya hanya diisi dengan cerita-cerita seperti kebanyakan orang  dan sampai mati hanya membanggakan dari mana saya berada. Oh, Herul life is once only, LIVE IT! lalu saya pun berubah, ingin melihat belahan dunia lainnya. Perubahan  pada cara saya melihat hidup ini pun dirasakan benar oleh orang-orang terdekat saya dalam keluarga. Dalam waktu kurang dari 6 bulan program PPAN telah merubah sisa hidup saya yang mungkin sudah bisa ditebak arah sebelumnya namun saya membongkar puzzle itu dan menjalaninya dengan sebuah petualangan dan merangkai dan membingkai ala saya.

Memiliki networking secara internasional dengan teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia dan kota-kota di Australia bahkan negara lain yang kita akan temui selama perjalanan program PPAN merupakan nilai plus lainnya dari mengikuti program PPAN. Bayangkan kamu memiliki 17 teman seprogram dari berbagai daerah di Indonesia, ini bukan hal biasa super duper extra luar biasa. Mengapa? mereka orang-orang pilihan dari daerah mereka masing-masing yang memiliki potensi besar menjadi pemimpin di daerah mereka. Prestasi mereka luar biasa baik nasional maupun internasional, pengalaman kerja yang hebat dan prestasi akademik yang gemilang. Prestasi sebagai duta wisata hampir disandang semua peserta Indonesia, bekerja di tempat bergengsi dan segudang pengalaman mereka yang membuat saya rasanya minder waktu itu untuk mengeksplorasi keunikan masing-masing teman saya di program. Orang-orang yang saya temui dalam perjalanan hidup saya membuat saya 'kaya' dan selalu merasa kurang dalam hal pengalaman.

Belumlah puas rasanya menjelajahi kehebatan teman-teman Indonesia saya, lalu saya pun harus bergaul lagi dengan 18 pemuda-pemuda Australia selama program. Hangatnya diskusi kami tentang budaya, pandangan hidup dan paling menarik yang membuat saya selalu ingin tahu latar belakang seseorang melakukan suatu tindakan yang mungkin bisa saya lihat dari peserta Australia. Hidup berdampingan dengan mereka selama program memang saya rasakan membutuhkan kesabaran yang tinggi dikarenakan perbedaan latar belakang budaya kami namun dibalik semua itu mereka memberikan saya pelajaran berharga untuk selalu bertoleransi dalam hidup berdampingan. Pelajaran mengenai kerja keras, pantang menyerah, tepat waktu dan berdisiplin adalah sebagian kecil yang bisa saya pelajari dari peserta-peserta Australia. Ditambah lagi suasana keakraban dan kekeluargaan menghiasi persahabatan antar dua negara Australia dan Indonesia.

Pengalaman hidup, tinggal dan menjadi bagian dari keluarga Australia selama dua bulan merupakan hal yang sangat bermanfaat bagi saya. Mengamati secara langsung kebiasaan orang Australia dan turut menjadi bagian dari anggota keluarga menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Saya jadi bertoleransi dengan orang tua angkat saya yang tidak memahami kebudayaan, pandangan hidup dan agama saya. Setelah bersama mereka dua bulan saya merasakan half of my way has been lost and another half better way of life has been adopted. Sadar atau tidak, saya telah tinggal di dalam keluarga ini, makan makanan yang sama di meja makan bersama-sama, memanggil mereka mom and dad, mengantar saya ke masjid untuk sholat Jum'at padahal mereka Atheis dan tiap pagi menyapa saya good morning Herul menjadi pengalaman takkan terganti dalam hidup saya. Komunikasi saya pun tetap terjalin hingga saat ini sehingga memungkinkan saya untuk mengunjungi mereka kembali di Australia. Nah satu lagi keuntungan dari tinggal di host family ini adalah pengalamannya karena kalaupun kita ke Australia belum tentu bisa hidup dan tinggal serta mengambil bagian sebagai anggota keluarga dalam keluarga Australia. Kapan lagi kalau bukan di PPAN ini.

Secara internasional well-recognized certificate dari youth exchange sangat berpengaruh. Nah tak jarang alumni PPAN mendapatkan pekerjaan dengan mudah dan beasiswa ke luar negeri dengan mudah karena sertifikat yang dimiliki telah bertaraf internasional. Berikut beberapa alumni pertukaran pemuda asal Sulawesi Tengah yang berhasil mendapatkan beasiswa melanjutkan study di luar negeri Habiruddin Said dan Putri Gagaramusu di USA, Zulkifli Radjamuda di UK, Mochtar Marhum dan Nursehang Thamrin di Australia, Agus Lamakarate di Canada,  Fadila dan Evi Yuniarti di Belanda, Mukrim Tamrin di New Zealand dan saya sendiri yang sekarang masih menempuh master saya di Australia.

Disamping kami juga mendapatkan sertifikat dari pihak negara tujuan kita dalam hal ini government mereka dan dari pihak kita yang dikeluarkan oleh pemerintah Negara Republik Indonesia sebagai duta bangsa. Yah, kita bisa keluar negeri bolak balik berapa kali namun sertifikat ini tidak akan kita miliki kalau tidak pernah mengikuti exchange program. Nah karena kita sudah mendapatkan sertifikat bertaraf internasional sehingga memudahkan kita untuk membuka peluang-peluang lainnya.

Saya dan Counterpart

Banyak yang bertanya apa itu counterpart? Untuk program Australia Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP) counterpart hanya ada di fase Indonesia jadi selama kami di Australia kami tidak didampingi counterpart. Jadi counterpart itu adalah peserta dari Australia yang dipasangkan dengan peserta Indonesia selama program berlangsung. Counterpart dipilih berdasarkan keputusan koordinator dengan melihat profil masing-masing peserta yang memiliki kesamaan minat, pekerjaan dan latar belakang pendidikan. Selama program kita akan tinggal serumah bahkan sekamar bahkan seranjang dengan counterpart selama dua bulan. Dua bulan bukanlah waktu singkat untuk melatih sabar, melatih bahasa Inggris dan menjadi guide dadakan gratis kemana-mana. Peserta Indonesia akan menemani counterpart melakukan kegiatan workplacement di Indonesia dan membantu komunikasi dengan orang tua angkat di Indonesia. Weits. hal ini bukan perkara mudah, sounds good tapi resikonya tinggi.


Sekembalinya saya di Palu ada hal yang saya rasakan berbeda yakni nilai tawar saya sebagai pengajar Bahasa Inggris kian naik karena berkat pengalaman saya di Australia. Hal ini memang terbukti dengan semakin membaiknya komunikasi saya dalam berbahasa Inggris dikarenakan dua bulan tinggal bersama orang tua angkat dan dua bulan bersama counterpart. So I rarely use my mother tongue in my daily life during the program. Dengan semakin tingginya permintaan untuk mengajar membuat nilai tawar saya naik sehingga bisa ditebak akan berefek ke isi dompet. Saya bisa pasang tarif untuk setiap les privat dan mengajar di lembaga. See how it works. Setelah saya menyelesaikan kuliah saya tepat waktu. tolong dicatat bahwa dengan mengikuti program PPAN tidak menghambat kuliah saya dan saya tetap bisa selesai selama 4 tahun dengan IPK memuaskan bagi saya. Nah terbantahkan kan mitos anak program telat selesai karena masalah selesai kuliah adalah masalah personal tolong jangan disangkutpautkan dengan program PPAN. seseorang yang tanpa mengikuti PPAN juga bisa cepat selesai dan lambat selesai semua tergantung dari person itu sendiri.

Setelah pulang ke Sulawesi Tengah saya bergabung dengan para alumni PPAN dibawah payung Purna Caraka Muda Indonesia (PCMI) Sulteng. Hal yang sangat saya dambakan untuk menjadi bagian dari keluarga besar orang-orang hebat di mata saya. Semenjak kuliah anak-anak PCMI memiliki prestasi yang gemilang dan selalu menjadi role model bagi adik-adik junior. Setiap cerita dan inspirasi dari mereka menjadi pemicu saya untuk tetap mengejar mimpi ke negeri impian. Menjadi bagian dari PCMI, yang beranggotakan putra-putra terbaik Sulawesi Tengah mengabdi untuk Sulteng dan memberikan arahan bagi calon-calon penerus PCMI ke depannya sehingga PPAN makin dikenal di masyarakat sehingga bisa memberikan kontribusi bagi pemuda di Sulteng.

Berkat pengalaman mengikuti seleksi PPAN yang ketat saya membuka peluang yang lain yakni di tahun 2006 saya terpilih menjadi Putera Pariwisata Sulawesi Tengah dimana pemilihannya diikuti 7 kabupaten dan 1 kota di Sulawesi Tengah. Program ini diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah. Disini saya benar-benar diberi kesempatan lagi berkat mengikuti seleksi PPAN. Percaya diri, kepemimpinan dan keinginan untuk berkompetisi terus terbangun semenjak dinyatakan menjadi Calon Duta Sulawesi Tengah di PPAN Australia Indonesia.

Alhamdulillah ketika selesai kuliah saya daftar CPNS dan saya lulus pada percobaan pertama. Semua berkat karunia Allah yang membukakan saya peluang untuk mengikuti PPAN dimana saya memiliki sertifikat dua negara yakni Australia dan Negara Republik Indonesia tercinta dalam hal ini Kemenpora, selanjutnya saya memiliki sertifikat dari pemerintah Kalimantan Selatan, Sertifikat dua tempat kerja saya di Australia dan beberapa surat referensi dari atasan saya di Australia. Dan satu lagi daftar riwayat hidup saya menjadi panjang setelah mengikuti program PPAN disamping saya juga memang hobby berpindah-pindah tempat kerja.

Plus lainnya adalah kesempatan besar untuk mengunjungi negara-negara lain melalui beasiswa. Dengan sertifikat yang kita telah miliki menjadi nilai plus bagi alumni PPAN untuk mendapatkan beasiswa lainnya ke berbagai negara. Sebelumnya saya pernah ke India melalui beasiswa ITEC (pengalaman di India) dan beasiswa Australia Awards Scholarships AAS untuk program master di Flinders University pada Jurusan Education (pengalaman di Adelaide, Australia). Saya sendiri sudah empat kali menerima beasiswa setelah program PPAN berlangsung dan saat ini saya sedang berada di Australia sebagai penerima beasiswa Australia Awards Scholarships (AAS) selama dua tahun ke depannya. Sungguh sebuah pintu kecil pembuka jalan-jalan besar lainnya yang diberikan ALLAH melalui kesempatan berpartisipasi di PPAN Australia Indonesia.


Salam Saya,

Khairullah
Master of Education, Special Educatio
Sturt Road, Bedford Park | South Australia | 5042
GPO Box 2100 | Adelaide SA 5001
Email: raza0017@flinders.edu.au
Mobile: +61450-191414





Sabtu, 25 Januari 2014

From Australia Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP) to Australia Awards Scholarships (AAS)

Untuk kedua kalinya saya akan menginjakkan kaki di negeri kangguru dimana kedua kesempatan tersebut saya peroleh berkat rahmat Allah melalui beasiswa dari Pemerintah Australia. Ketika saya berada di Darwin, Australia sebagai tempat saya untuk program AIYEP saya menanamkan dalam hati bahwa saya Insya Allah akan melanjutkan sekolah di negeri kangguru ini, mimpi saya tidak boleh terhenti hanya sampai di program AIYEP. Saya harus mencari jalan untuk bersekolah dan mengeyam pendidikan di negeri tetangga ini dan tentunya melalui jalur beasiswa.



Ditambah lagi Darwin merupakan hanya gambaran kecil dari Australia sehingga saya harus kembali menginjakkan kaki ke Australia untuk menjelajahi belahan lain kota-kota di Australia dengan mengunjungi Melbourne, Sydney, Perth dan Canberra. Saya ingin melihat Opera House dan Sydney Harbour Bridge... Amazing sekali rasanya bisa menginjakkan kaki disana.

Untuk mewujudkan impian itu saya membangun network selama mengikuti program AIYEP untuk pengembangan karir saya ke depan dan terbukti alhamdulillah berkat networking saya dengan teman-teman Australia sangat membantu saya dalam memberikan arahan selama mengikuti proses aplikasi beasiswa program master AAS.


Akhirnya tanggal 13 Januari hari keberangkatan ke Australia tiba. Hari yang telah lama dinantikan dengan pesawat Qantas QF42 mengantarkan ke Sydney selama kurang lebih 6 jam akhirnya tiba di Bandara Sydney pukul 06.00 waktu Sydney dilanjutkan sekitar jam 10.00 menuju Adelaide dengan pesawat Qantas QF 741 menuju Adelaide. Selama dalam pesawat menuju Sydney saya tidak bisa tidur sama sekali padahal biasanya saya selalu tertidur pulas di pesawat namun kali ini mixed feeling yang saya alami. Meningat keluarga di rumah, ingat semua-semuanya. Sesekali saya melirik awardee lain semuanya tertidur nyenyak dan saya mencoba mengajak Adi yang disamping saya untuk ngobrol tapi dia juga pulas tidurnya. Akhirnya melongolah saya, bolak balik ke toilet dan mendengar lagu sambil menutup kepala dan selimut namun sama saja tidak bisa tidur.


Akhirnya sampai juga di Sydney sebelumnya kami diberi makan pagi yang serasa baru 3 jam selesai makan malam dikasih sekarang makan pagi lagi. Sepertinya ini karena menyesuaikan waktu Sydney dimana jam tersebut sekitar jam 6 pagi. Finally Australia, dan sesampainya di Bandara Sydney kami langsung bergegas turun dan menunggu bagasi yang lumayan lama sekali ditambah antrian imigrasinya yang panjang dilanjutkan pemeriksaan barang-barang yang dideclare. sedikit ada masalah dengan obat yang saya bawah karena tidak memiliki label

Sekarang tibalah di Adelaide pukul 11 siang pukul 12 siang waktu setempat. Here, I am finally Adelaide - 14 January 2014

Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Melamar Beasiswa Australia Awards Scholarships (AAS)

Pengalaman saya mendaftar beasiswa AAS sebanyak tiga kali hingga akhirnya saya lolos dan masuk wawancara dan alhamdulillah terpilih menjadi awardee membuat saya memiliki persepsi pribadi apa yang sebenarnya diharapkan AAS dari pelamar-pelamar. Ini merupakan analisa pribadi saya dan jika mungkin salah mohon dimaafkan karena ini hanyalah sarana berbagi untuk membantu calon pelamar untuk menjadikan bahan pertimbangan sebelum melamar beasiswa AAS. Berikut beberapa hal yang dimaksud:
  • Bekerja pada sektor yang merupakan fokus kerja dari AAS termasuk lembaga pemerintah dan swasta yang memiliki kontribusi  ke Pembangunan Jangka Panjang Indonesia. Jika Anda seorang PNS, Anda cukup 'memoles' hal tersebut di dalam essay dikarenakan PNS merupakan profesi yang bersentuhan langsung dengan pembangunan Indonesia. Selanjutnya jika bekerja di sektor swasta hubungkan pekerjaan Anda dengan kegiatan-kegiatan yang memiliki hubungan dengan pembangunan di Indonesia dimana Anda terlibat untuk berkontribusi disana. Penting untuk diperhatikan bahwa pelamar AAS tiap tahunnya semakin bertambah sehingga persaingan semakin ketat dan profesi-profesi yang cocok dengan prioritas tentu sangatlah banyak dari lamaran yang masuk sekitar 4000an.

  • Keterkaitan hubungan antara pendidikan Anda sebelumnya dengan jurusan yang akan Anda diambil di Australia. Hal ini sangat penting karena panelis ingin memastikan bahwa Anda mumpuni di jurusan Anda dan perlu untuk disekolahkan di Australia. Namun jika pekerjaan yang Anda geluti saat ini sudah berbeda dengan latar belakang pendidikan sebelumnya Anda harus menjelaskan dengan kuat alasannya. Dalam hal ini Anda harus dengan sangat meyakinkan bahwa Anda mampu dan butuh dengan jurusan tersebut. Anda harus perkuat dan pertajam essay Anda melebihi essay orang-orang yang memilih jurusan yang linear.

  • Pilihlah jurusan yang memang benar-benar dibutuhkan di institusi Anda dan Anda harus meyakinkan bahwa jurusan tersebut dibutuhkan dengan alasan yang sangat kuat dan urgensi dari jurusan tersebut. Berikan alasan bagaimana caranya panelis memilih Anda dari 10 orang pelamar dengan jurusan yang sama dan mereka harus memilih Anda sebagai analoginya. Ini bukanlah masalah essay yang bagus namun di luar sana saingan Anda juga banyak dan tentu essaynya juga tak kalah hebatnya. Makanya Anda harus selalu berfikir urgensi apa yang harus dilakukan sehingga Anda layak dan harus disekolahkan.

  • Jika memungkinkan pilihlah jurusan dimana jurusan tersebut belum ada di Indonesia kalaupun ada spesifikasi ilmunya ada baiknya jelaskan  keunggulannya di Australia karena jika jurusan tersebut ada di Indonesia maka sepertinya Anda tidak harus disekolahkan oleh AAS meskipun Anda potensial.

  • Kongkritkan langkah dan usaha Anda setelah pulang disertai kontribusi yang ingin dilakukan setelah pulang dari program AAS.

  • Bekerja di daerah terpencil dan Indonesia bagian Timur menjadi prioritas, semakin terpencil tempat Anda bekerja chance untuk mendapatkan AAS hal ini berdasarkan survey kecil-kecilan yang saya amati dari kawan-kawan penerima beasiswa AAS di kelas saya mereka kebanyakan bekerja di daerah terpencil di Indonesia Timur namun bukan berarti mereka yang bekerja di kota besar tak memiliki kesempatan. Jadi kesempatan selalu terbuka jika ada usaha. Saya sendiri bukan dari kawasan Indonesia Timur dan bekerja di kota.

  • Berikut ini ada video dari Ketua Tim JST AAS Video dimana kalian bisa tonton aspek apa saja yang kerap lewat dari perhatian pelamar beasiswa. 
Selamat mencoba peruntungan beasiswa Anda!



Khairullah
+8613255901135 WA only

Rabu, 22 Januari 2014

Resmi Menjadi Mahasiswa School of Education Flinders University





Hari kedua di kampus Flinders saya mengurus kampus enrollment saya. Bingung! yah dengan kemampuan bahasa Inggris saya yang pas-pasan namun berbekal kertas data diri saya dan apa yang harus saya lakukan itulah yang saya lakukan kemana saya akan pergi dan apa yang harus saya lakukan. Step Enrollment saya harus diaktifasi dulu FAN dan akun saya sebagai mahasiswa Flinders yang dibantu seorang Senior dari Kupang. Thanks kakak Although I forget your name My prayer goes to you. Setelah aktifasi FAN saya menuju Student Center menunjukkan visa dan passport yang menunjukkan bahwa kamu Ausaid Student. Bangga juga rasanya dapat panggilan  Ausaid Student. Sesudah proses di Student Centre saya diprintkan nama supervisor dan coordinator saya pada jurusan saya untuk menentukan pilihan mata kuliah pilihan. Karena selama 4 semester kuliah berikut gambaran matakuliah saya:

Semester 4 dimana semua mata kuliah pilihan bagi saya. Untuk menentukan mata kuliah ini saya diharuskan bertemu dengan koordinator atau supervisor di jurusan saya. Sepertinya sulit bertemu supervisor dikarenakan kesibukannya Dr. Askel-Williams, inilah nama supervisor saya yang sampai sekarang saya belum ketemu batang hidungnya. heheheh

Langkah selanjutnya yang saya ambil adalah menuju ke pembuatan kartu ID kampus karena menurut info kami masih harus membayar kartu bus sebagaimana orang biasa padahal pakai kartu student concession kita memiliki potongan dan masih banyak fasilitas yang kami tidak dapatkan kalau belum mengurus kartu Flinders ID Flinders. Ternyata status saya belum teraktifasi sehingga saya harus bertemu koordinator. 

Di library kebetulan banget saya ketemu mbak Atiek salah satu pengurus  PPIA Flinders dia bersedia mengantar saya ke school of education. Saya bilang ke mbak Atiek, gak usah mengantar kami cukup kasih petunjuk saja namun mbak ATiek sepertinya tak rela membiarkan dua anak manusia saya dan Louis untuk nyasar karena setelah dalam perjalanan menuju School Education memang naik turun dan berbelok-belok. Nah sampailah kami di School of Education




Setelah menanyakan ke resepsionis apakah Jeanette, koordinator jurusan Education and Psychology dan ternyata dia sedang cuti namun ada staf yang bisa menghandle urusan kami. Yah Kay Doughlas, dialah yang menjelaskan mata kuliah kami, mana mata kuliah pilihan dan mana mata kuliah wajib yang harus diambil di setiap semester. Dan ada sekitar 15 Mata kuliah pilihan, jadi bingung semuanya bagus namun harus mempertimbangkan kebutuhan. Nah yang mesti diperhatikan mata kuliah wajib harus diambil pada waktu ditawarkan di setiap semester. Nah akhirnya jelas sudah mana mata kuliah yang akan saya ambil semester ini
  1. Motivation, Cognition and Metacognition in Learning sebagai Mata Kuliah Wajib
  2. Teaching to Develop Motivation, Cognition and Metacognition sebagai Mata Kuliah Wajib
  3. Collaborative Consultation sebagai mata kuliah pilihan
  4. Education Planning and Assessment for Students with Special Needs, mata kuliah pilihan.
Setelah diaktifasi enrollment kami dari pihak school of education saya kembali ke mbak-mbak yang mengurus kartu ID dan setelah dicek nama kami belum diaktifasi. Walah ada apa lagi ini. Saya diminta ke Student Enrollment Support akhirnya saya baru tahu jawabannya kami belum memilih mata kuliah yang akan kami ambil semester ini. Setelah membereskan memilih secara online mata kuliah kami selanjutnya kembali ke mbak-mbak yang membuat ID Card dan jadilah ID Card kami karena setelah dicek nama kami sudah diaktifasi. Nah inilah student card saya yang penuh perjuangan meraihnya. Rasanya terbayang perjuangan mengejar beasiswa sampai akhirnya resmi menjadi mahasiswa Flinders University



Demikianlah coretan saya diawal langkah saya menempuh pendidikan di Australia selanjutnya saya memohon doa dari teman-teman yang sempat membaca blog ini atau akan membaca blog ini.

Salam Saya,

Khairullah (Herul) Abdul Razak
Master of Education
Sturt Road, Bedford Park | South Australia | 5042
GPO Box 2100 | Adelaide SA 5001
Email: raza0017@flinders.edu.au
Mobile: +61450-191414

Selasa, 21 Januari 2014

Beasiswa Community College Initiative Program (CCIP) USA AMINEF

Melalui tulisan ini saya ingin menuliskan perjuangan saya mendapatkan beasiswa Community College Initiative Program (CCIP) meskipun pada akhirnya saya lulus juga pada beasiswa Australia Awards Schlarships (AAS) namun saya terpanggil untuk menuliskan pengalaman saya ini karena saya telah dibiayai oleh pihak AMINEF dari tiket PP Palu - Jakarta untuk wawancara beserta uang saku serta biaya medical check up. Sangat disayangkan pada akhirnya saya memilih ke Australia untuk beasiswa AAS sebagaimana impian saya. Berikut saya bagikan tipsnya adalah:

  1. Siapkan dokumen yang dipersyaratkan, Jangan sampai ada yang terlupakan karena jika tak lengkap mengurangi poin Anda karena pelamar beasiswa ini juga banyak.
  2. Pada tahun 2012 ketika saya mendaftar, tidak menjadi persyaratan namun saya menyiapkan surat rekomendasi dari kepala kantor  dan surat rekomendasi dari gubernur. Hal ini bisa jadi nilai tambah bagi Anda bahwa memang Anda bersungguh menginginkan beasiswa ini.
  3. Keterhubungan jurusan yang akan dipilih dan pekerjaan saat ini. Yang pelamar sering lupakan bahwa beasiswa ini diberikan bagi mereka yang sudah menyelesaikan S1 dan SMA. Persyaratan untuk yang sudah menyelesaikan S1 adalah jurusan pada saat S1 berbeda dengan pekerjaan saat ini sehingga membutuhkan untuk disekolahkan melalui CCIP. Sebagai contoh jika saya seorang sarjana pendidikan yang bekerja di instansi pemerintah sebagai tenaga staf IT nah untuk melamar CCIP saya harus mengambil jurusan komputer.
  4. Isilah jawabannya dengan jujur tanpa harus melihat atau menjiplak isian orang lain karena menurut saya beasiswa itu sebuah misteri besar. Isian yang sama dengan orang yang berbeda bisa saja yang satu lulus dan yang satu tidak lulus jadi usahakan untuk jujur dengan kemampuan kita karena pada saat wawancara, panelis sudah tertarik dengan profil tulisan kita sehingga ingin memastikan kita saat wawancara.
  5. Usahakan menjawab isian dengan memberikan langkah kongkrit bukan kata-kata manis yang tidak jelas apa yang ingin dilakukan. Misalnya ketika pulang saya akan mengaplikasikan ilmu saya untuk kemajuan kantor karena demand di kantor sangat tinggi. Masalah utama di kantor saya adalah terbatasnya human resource yang menguasai IT sehingga pekerjaan terlambat sementara tuntutan dan permintaan data biasanya sangat cepat. Inilah salah satu jawaban saya dalam menjawab apa yang saya lakukan ketika pulang.
  6. Hal yang terpenting adalah menghubungkan dengan JELAS bahwa jurusan yang kita inginkan memang SANGAT dan AMAT dibutuhkan dan pekerjaan saat ini sangat mendesak untuk menempuh pendidikan tersebut. Jangan sampai kita memberikan jawaban akan tidak kuat serta penntingnya menempuh pendidikan. Bayangkan bahwa ada 10 orang melamar di jurusan yang Anda pilih buat alasan Anda lebih penting dan lebih mendesak kebanding yang lainnya.
  7. Untuk pertanyaan mengenai masalah yang mungkin dihadapi ketika berada setahun di US, saya menyebutkan homesick namun saya memberikan keterangan bahwa pengalaman saya yang telah mengikuti berbagai beasiswa membuat saya  semakin terbiasa dengan homesick dan ada beberapa hal yang saya lakukan yakni bergaul dengan orang lokal, membawa buku favorit dan film favorit dari Indonesia.
  8. Sementara untuk pertanyaan apa yang ingin saya pelajari dari Amerika yakni etos kerja mereka dan nilai hidup mereka yang positif. Untuk apa yang akan saya lakukan di Amerika adalah menjadi duta Indonesia dengan baik dengan memberikan gambaran yang baik soal Indonesia, saya akan melakukan promosi budaya dengan membawa leaflet wisata Indonesia, saya akan menari tarian Indonesia dan pada special occasion saya akan memakai batik.
  9. Kirim berkas lebih awal. Percaya atau tidak saya dua kali melamar beasiswa dan saya mengirim di awal sebelum deadline. Alhamdulillah semuanya terpanggil wawancara. Salah satu mitos dalam mengejar beasiswa adalah, mengirimkan lebih awal merupakan bukti bahwa Anda memang menginginkan beasiswa ini. Bayangkan kalau Anda ingin mengajar siswa-siswa, siswa yang pertama datang menunjukkan bahwa dia antusias untuk belajar. Mungkin begitu juga anallogi beasiswa.
  10. Naikkanlah nilai TOEFL Anda. Meskipun persyaratan TOEFL hanya 450 namun Anda perlu meningkatkan TOEFL karena info dari pihak AMINEF saat mereka presentasi bahwa nilai TOEFL yang paling tinggi lebih diprioritaskan ketimbang yang rendah jadi dalam hal ini jika TOEFL Anda rendah sementara saingan Anda banyak yang tinggi jadi sedikit kemungkinan Anda terpanggil wawancara. Namun ini bukan jaminan, karena ini hanya salah satu faktor.

Mungkin ini tips dari saya soal persiapan mengikuti CCIP selanjutnya untuk wawancara ini beberapa tips saya bagikan:
  1. Datang tepat waktu karena biasanya ada peserta yang terlambat yang bisa didiskualifikasi sehingga urutan kita menjadi cepat disamping itu kita bisa saling kenal dengan peserta lain dan mencari bocoran dari peserta yang sudah selesai wawancara.
  2. Berpakaian rapi untuk menggambarkan kesiapan Anda untuk dipilih menjadi kandidat yang akan menjadi duta Indonesia.
  3. Semua dokumen penunjang buat dalam 1 folder dan sertakan pada saat wawancara hal ini bisa menunjukkan bahwa Anda benar-benar siap dalam menyiapkan wawancara. Yang saya siapkan waktu itu slide presentasi mengenai Indonesia untuk promosi kebudayaan di Amerika sehingga membuat panelis terkesan.
  4. Salah satu pewawancara akan bertindak "antagonis" yang melemahkan pendapat Anda tapi yang saya lakukan saya tetap mempertahankan pendapat saya. Saat itu saya disuruh untuk merubah jurusan saya karena dianggap tidak memberikan kontribusi banyak namun saya jawab bahwa bekal saya untuk mengajar di Indonesia nantinya akan saya peroleh dengan memperbaiki Bahasa Inggris saya di kelas dan di luar kelas melalui komunikasi dengan orang Amerika dan peserta lainnya. Sementara ilmu komputer akan saya pelajari dan pastinya akan saya aplikasikan untuk kantor saya. Berikut beberapa pertanyaan saat wawancara:
  • Apakah saya yakin dengan kemampuan saya bisa belajar IT sementara saya belum pernah belajar IT. Jawaban saya YAKIN karena saya pernah belajar IT di New Delhi selama 3 bulan meskipun saya bukan siswa berprestasi di kelas saya mampu bersaing dan di kantor aplikasi baru bisa kami pelajari by learning by doing jadi intinya adalah kemauan.
  • Jika melihat pengalaman yang kamu punya sudah sering ke luar negeri apakah tidak ada keinginan untuk bekerja di luar dari daerah kamu tinggal. Saya jawab rasanya tidak fair jika kesempatan mendapatkan beasiswa saya peroleh melalui keterwakilan daerah saya tapi saya tidak mengabdi di tempat saya dimana human resource daerah saya masih sangat terbatas. Saya tetap harus di Sulteng untuk mengabdikan ilmu saya dan menginspirasi orang-orang disana.
  • Bagaimana proses perpindahan karir kamu dari seorang guru menjadi seorang staf Pegawaia Negeri Sipil? Jawaban ini karena tuntutan dari pimpinan mengharuskan saya berpindah tempat kerja dari lembaga pendidikan menjadi staf.
  • Apa yang akan kau lakukan setelah selesai program CCIP. Saya jawab saya akan mendaftar beasiswa ke US untuk program master karena ada beasiswa dari PRESTASI dengan jurusan teknologi pendidikan saya rasa ini cocok bagi saya. Dan salah satu pewawancara meyampaikan bahwa saya tidak bisa ke US selama 2 tahun setelah program CCIP dan saya jawab kan masih melamar beasiswa yang belum tentu lulus. Sampai saat ini saja saya sudah melamar beasiswa sebanyak 8 kali namun belum ada yang lulus. Mereka semua tertawa. Dan saya tambahkan kalau ke US tidak bisa saya akan ke India belajar subjek itu, India juga maju untuk teknologi pendidikan.
Inilah sekelumit tulisan saya sebagai 'bayaran' telah menikmati tiket gratis Palu JKT - PP dan medical check up dari AMINEF. semoga Allah membalas kebaikan bagi pihak AMINEF.

Salam


Khairullah
Master of Education - Special Education
Sturt Road, Bedford Park | South Australia | 5042
GPO Box 2100 | Adelaide SA 5001
Email: raza0017@flinders.edu.au
Mobile: +8613255901135

Pelajaran Hidup saat EAP I/A/L/F Denpasar Lebih dari Pelajaran IELTS

Selama masa English Academic Purpose (EAP) bulan Juli 2013 di Denpasar ada waktu dimana semangat ini berkobar untuk mencapai target demi mengenyam pendidikan di negeri kangguru namun ada kalanya semangat ini padam, lenyap, hilang diterbang seiring kesibukan yang tak berujung yang membawah saya dalam perenungan sebegini susahnya kah Rul untuk mengejar sebuah mimpi? Saya sadar pilihan untuk melanjutkan study ke luar negeri merupakan perjuangan panjang yang tak kenal lelah, perjuangan psikis dan fisik tak hanya materi non-materi pun harus saya korbankan sehingga pertanyaan segini hebatnya mimpi ini dimana masa-masa 'indah' yang mestinya saya nikmati saya justru berkubang dengan sederet persyaratan yang tak kunjung usai.

Tak kunjung usai di mata saya karena semakin jauh melangkah semakin banyak persyaratan yang dimintai. Saya kadang lelah sehingga rasa ingin mundur kadang terlintas namun pengalaman gagal saya dalam mengejar beasiswa, support dari teman di Palu, teman sekelas di IALF yang juga mengalami hal yang sama membuat saya kuat dan bertahan. Namun kadang badan ini sulit dibohongi, minggu-minggu awal saya stress sehingga mengakibatkan saya muntah-muntah. Saya ke dokter dan dokter mengatakan saya stress namun saya bilang, tidak dok saya baik adanya. Saya selalu menananamkan dan saya yakin pengejar beasiswa juga pernah mengalami hal yang sama.

Banyak hal dalam keluarga yang saya lewatkan. Rul, terlalu mahal mimpi ini hingga perjuangan tak berujung ini harus saya bayar mahal. Meninggalkan momen penting di keluarga adalah hal yang sangat miris dan menyedihkan kalau diingat-ingat namun semangat dari teman-teman yang justru lebih berat dari saya yang sudah memiliki pasangan dan anak dan mereka harus meninggalkan pasangannya justru memiliki beban ganda dalam belajar. Your effort is nothing Rul compare to them lah.

Orang di luar sana berfikir betapa enaknya mendapatkan beasiswa dan mendapatkan pelatihan di Bali bisa jalan-jalan, gaji sebagai PNS jalan terus ditambah lagi uang saku selama pelatihan di IALF yang saya terima tiap bulan melebihi gaji PNS saya sebagai PNS Gol.III/b.

Namun pernahkah terbesit dipikiran mereka disini saya harus berkompetisi melawan kemalasan diri, belajar yang hampir bisa dibilang dari semenjak bangun pagi sampai tidur lagi, dididik dengan gaya barat yang masih asing bagi saya mulai dari kebiasaan sampai hal akademis hingga terkadang harus berkompromi tentang masalah ibadah.

Sholat kadang 'kering' saya rasa saya sering menceritakan hal ini kepada teman bahwa shalat saya sudah tidak khusu karena dikejar deadlline tugas dan hanya disela-sela waktu istrihat. Jadwal pelajaran yang sangat dan super padat di IALF  membuat sholat saya terburu-buru. Saya jarang sholat sunnat sepeti tahajjud dan Dhuha. Semua hilang kekhusukan itu, semua hanya dipenuhi ketakutan akan IELTS. seolah dunia saya semakin sempit hanya berkisar seputar IELTS dan segala tetek bengeknya. Kejadian-kejadian di luar tidak menarik di mata saya. mengabarkan kabar untuk keluarga saya pun sudah malas karena saya terperangkap dengan banyaknya kekuarangan saya di IELTS preparation.

Di awal-awal EAP saya sangat frustasi dengan diri saya, saya benar-benar merasa bodoh mungkin karena belum terbiasa ditambah lagi gangguan konsentrasi saya dimana sebagian orang sudah mengerti namun saya belum mengerti. Oh ya Allah begitu berat EAP bagi saya sehingga berhenti sejenak berfikir susahnya.

Sebelumnya saya sudah sempat menghentikan ke psikiater dan mengkomsumsi obat dokter namun rasanya kumat lagi diri saya saat beratnya beban EAP. Sesekali ingin loncat dari lantai dua kosan saya di Denpasar. Saya benar-benar frsutasi dengan tugas yang tidak ada hentinya dan saya tidak mengalami progress sama sekali. Saya melakukan tes di RS Sanglah Denpasar MMPI I. Yah saya stress ringan dan parahnya diagnosa psikiater saya mengidap bipolar disorder. Entahlah saya merasa dokter ini ngacau saya merasa tak merasa demikian. Saya selanjutnya pindah psikiater lain padahal yang sebelumnya itu adalah psikiater senior dan jam terbangnya sering ke luar negeri dan pengalamannya mengajar sudah lumayan namun bisa-bisanya melihat saya sebagai seorang bipolar disorder. heheheh. Saya merasa nyaman dengan psikiater sekarang di Denpasar sampai akhir EAP saya tetap konsultasi dan meminum obat. 

Om saya meninggal saat saya EAP. Ini bukan hanya sekedar om karena dari semenjak SMA sampai saya bekerja sekarang telah tinggal bersamanya dikarenakan tante saya tak memiliki anak. Saya merasa bersalah ketika memutuskan tidak pulang. Namun disi lain adakah yang tahu kalau uang dikantong saya hanya sekitar 100ribuan. Saya pantang untung mengutang saya malu sebagai seorang penerima beasiswa berhutang terus. Malu rasanya. Disamping itu saya harus memilih apakah pulang Palu untuk melayat atau membiarkan penampilan seni tanpa saya yang sudah kami siapkan beberapa hari sebelumnya untuk berlomba pada malam farewell di Konsulat Australia di Bali. Saat berangkat ke acara tersebut saya menangis karena di Palu sana keluarga saya sedang berduka dan saya harus berpura-pura bersuka ria malam itu. Sesak rasanya namun alhamdulillah hadiahnya grup kami menjadi juara lagu  Do I Make You Proud sepertinya dipersembahkan untuk om saya.

Berjuang untuk mendapatkan disability assessment yang dipersyaratkan Australia Awards Scholarships. Saya harus berangkat 'diam-diam' ke Jakarta untuk melakukan cek up di ADHD Centre sebuah lembaga untuk memberikan pemeriksaan kepada orang-orang dengan gangguan konsentrasi termasuk disability yang saya idap yakni Attention Deficit Disorder (ADD) disertai mild dyslexia. Saya tidak ingin teman sekelas saya tahu kalau saya berangkat ke Jakarta dan keluarga di Palu dan di Denpasar tak ada yang tahu. Akhirnya tesnya selesai dengan biaya mengutang sana sini untuk biaya tiket dan biaya med check yang tidak dicover sama AAS. Sorry to say kali ini namun saya berhasil mendapat approval lewat disability assessment tersebut. Thanks dokter Hendryk Timur sudah memberikan pemeriksaan yang sangat komprehensif.

Di akhir-akhir EAP kami makin disibukkan dengan DP yah DP bukan Dewi Persik namun Discussion Paper dimana kami harus menulis isu yang debatable di bidang kita masing-masing sebanyak 2000 kata. Karena saya memasuki ilmu yang baru yang akan saya pelajari di Australia maka saya melakukan riset kecil-kecil mengenai masalah dalam lingkup psikologi pendidikan. Banyak judul yang saya tawarkan namun tidak diterima oleh Mr. Jerry Cross. Tanpa melebih-melebihkan Mr. Jerry memang sangat disiplin dibanding guru-guru lain. Jika di kelas lain bisa memilih isu dari satu sisi dan sumbernya tidak harus 10 sumber dan panjangnya juga hanya 1500 namun aturan itu tak berlaku di kelas kami. kami selalu merasa 'disiksa' oleh Mr. J namun semangat kami untuk saling menyemangati kami berhasil melewati derita ini bersama-bersama dengan senyuman bahagia.

Senyum 3MB menjelang ujian bersama I/A/L/F team, Australia Awards Scholarships Team and beloved teacher Jerry Cross


Fantastik, hasil IELTS dari kelas kami membawa kami seisi kelas berhasil masuk ke kampus tujuan masing-masing dan tak ada satupun dari kami yang harus mengulang. Prestasi besar bagi Mr. Jerry yang berhasil menjadikan kami murid yang rajin. Semua karena usaha dia membuat kita terpacu untuk belajar terutama bagi saya yang benar-benar terbelakang karena memiliki disability. Jika teman-teman memiliki disability termasuk learning difficulty sebaiknya memberitahukan kepada guru dan IALF Team agar disesuaikan pengajaran yang dibutuhkan. Berkat usaha Mr. Jerry Cross yang mungkin takkan kulupakan adalah dia memperjuangkan untuk saya untuk mendapatkan tambahan waktu untuk tes IELTS. Alhamdulillah Vlad selaku pimpinan IALF memberikan tambahan waktu 30 menit untuk writing test dan 30 menit untuk reading dan saya dipindahkan ke ruangan tersendiri dan dijaga dengan 1 orang staf IALF selama tes berlangsung. Akhirnya senyum manis merekah saat IELTS saya cukup untuk masuk ke Flinders bahkah beberapa band melebihi yang dipersyaratkan jurusan saya. Alhamdulillah ya Allah.

Kiri (Jerry Cross), Tengah (Herul) dan kanan (Vlad)


Khairullah
Master of Education - Special Education
Sturt Road, Bedford Park | South Australia | 5042
GPO Box 2100 | Adelaide SA 5001
Email: raza0017@flinders.edu.au
Mobile: +61450-191414

Kamis, 16 Januari 2014

Hari Hari Pertama di Adelaide

Saya tiba di Adelaide tanggal 14 Januari 2014 melalui penerbangan Jakarta - Sydney selama kurang lebih 7 jam dan Sydney ke Adelaide 2 jam. Kesan pertama saat tiba di Adelaide yakni panasnya yang luar biasa yang sempat mencatat rekor terpanas di dunia pada tanggal 16 Januari 2014, yah panasnya sekitar 43 C, bagi saya yang dari Indonesia memang sedikit shock dengan panas ini  namun berusaha untuk bertahan dengan panasnya Adelaide karena saya akan berada disini selama 2 tahun insya Allah.

Kedatangan kami di Bandara Adelaide disambut oleh mbak Atik yang sangat ramah dari Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) serta beberapa staf Flinders yang sangat ramah benar-benar welcoming yang sangat ramah. Organisasi Pemuda Muslim Indonesia juga menyambut kami dan membagikan minuman kaleng, suatu pengalaman yang sangat hangat saya rasakan. Saya merasakan seperti di Indonesia dengan bertemu dengan anak-anak Indonesia. 

Sepanjang pengamatan singkat saya orang-orang Australia di Adelaide sangat ramah hal ini bisa saya lihat ketika kita bertanya ke orang sekitar ketika menanyakan tempat atau membutuhkan arahan mencari alamat mereka sangat antusias menjelaskan. Ketika sekilas kita melihat mereka kelihatan individualis namun ketika kita meminta pertolongan mereka sangat ramah dan super ramah.

Selanjutnya saya harus membiasakan diri dengan waktu sholat di musim panas yang jauh lebih panjang. Untuk sholat subuh sekitar pukul 04.37 sedangkan untuk sholat magrib pukul 20.32. Hari-hari pertama saya masih kuat bertahan sampai jam 12 malam karena menunggu isya pukul 22.00 sehingga bisa dipastikan saya telat bangun pagi sholat subuh. Meski memasang alarm namun tubuh saya belum terbiasa bangun sehingga alarm meninabobokan saja. Mungkin badan saya memerlukan penyesuaian.

Jalanan di Adelaide sangat lengang dengan jalan yang besar dan kendaraan yang sangat sedikit. Selama 3 hari saya belum pernah melihat orang mengendarai sepeda motor hal yang sangat kontras dengan tempat saya tinggal di Palu dimana motor ada dimana-mana bahkan melebihi jumlah kendaraan roda empat. Di Adelaide jumlah mobil lebih tinggi daripada sepeda motor mungkin dikarenakan harga mobil sangat murah disini karena bebas pajak. Kita bisa mendapatkan mobil bekas seharga AUD 1,000.

Untuk transportasi umum saya memakai bus ke kampus dan pusat perbelanjaan. Seperti halnya di Darwin, ciyee saya masih selalu bernostalgia dengan Darwin, bus di Adelaide sangat nyaman dan space yang luas. Dua hari terakhir ini saya menggunakan bus dan uniknya tidak pernah ada penumpang yang berdiri bahkan masih banyak kursi yang kosong ditambah lagi jumlah aramada bus yang banyak dan datang tepat waktu serta jarak kedatangan dari satu bus ke bus yang lainnya kira-kira 5 menit.

Saya sangat terkesan dengan rumah yang kami tempati karena sangat sederhana tapi semuanya dapat difungsikan dengan maksimal hal yang kontras di Indonesia dimana rumah besar-besar dan ditinggalkan begitu saja tanpa dimaksimalkan penggunaannya. Disini rumah-rumah saya belum pernah melihat rumah yang besar dan mewah semuanya sesuai standar dan sangat sulit membedakan satu rumah dengan lainnya karena modelnya hampir sama.



Tanggal 16 Januari 2014 merupakan hari kedua saya di Kampus saya merasakan sangat nyaman karena pelayanan di kampus bagaikan pelayanan di bank di Indonesia serta  para staf yang menangani bagian registrasi enrollment international student  sangat supportive sehingga saya merasa sangat mudah. Prosedur serta aturannya sangat jelas bahkan mengurus kartu mahasiswa bisa sehari saja diselesaikan.

Terus terang senior-senior yang belajar di Adelaide sangat baik hati untuk membantu memudahkan masa adaptasi kami di Adelaide. Terima kasih buat mbak Cece yang membantu kami sebelum kedatangan kami di Adelaide untuk akomodasi kami dan mentake over rumah yang dia kontrak ke kami, mbak Atik yang mengurusi kami saat tiba di Bandara, kakak senior dari Kupang yang saya lupa namanya hehehe yang membantu mengaktifkan student account saya di Flinders Lbibrary dan many thanks buat rekan-rekan lainnya. I should say they are all incredible. PPIA has worked the best and satisfying for us.



Rabu, 15 Januari 2014

Long Journey to be in Australia - A Scholarship Hunter's Story




Setelah menyelesaikan semua berkas-berkas yang dipersyaratkan untuk berangkat melanjutkan studi di Australia termasuk kontrak beasiswa, Admission Letter, Rent House dan lainnya nah kini saya harus menyempatkan diri berpamitan dengan keluarga inti saya di kampung halaman tercinta di Kampung Tengah, Soni, Kabupaten Toli-toli, Sulawesi Tengah dan keluarga saya di Palu, teman di kantor, teman sepermainan. Setelah sibuk memenuhi check list to do sebelum berangkat ke negeri kangguru akhirnya selesai juga.


Dan berangkatlah saya ke Jakarta 6 Januari 2014 walaupun tanggal keberangkatan saya ke Adelaide tanggal 13 Jan 2014 namun saya berangkat lebih awal untuk silaturahmi dengan keluarga di Jakarta.

Rasanya sulit saya mengucapkan selamat tinggal kepada keluarga di Indonesia. Meski banyak yang bilang yang lajang tidak banyak beban meninggalkan keluarga namun  pada akhirnya berat rasanya meninggalkan rumah. Inilah bagian tersulit meninggalkan keluarga selama dua tahun masa study di Australia.

Here I am Jakarta!
Tanggal 6 Januari 2014 saya tiba di Bandara Soeta sekitar pukul 21.00 dikarenakan pesawat Garuda telat dan saya sampai di kosan teman di Kampung Melayu pukul 23.30. What a tiring journey!

Tanggal 7 Januari 2014 saya manfaatkan untuk istirahat tidur sepuasnya, setelah sholat dzuhur saya ke daerah Kwitang menukar uang rupiah ke mata uang Dollar Australia, dilanjutkan belanja buku dan pakaian dan berakhir nonton di XXI, 99 Cahaya Langit Eropa. Film ini sebagai bekal saya untuk menjalani hidup di negera orang.

Tanggal 8 Januari 2014 ke Tangerang ketemu keluarga yang kerja di Tangerang. Dulu waktu saya bekerja di Kemlu sering main ke Tangerang.

Tanggal 9 Januari 2014 saya ke Pasar Pagi Mangga Dua membeli perlengkapan untuk ke Aussie, selanjutnya saya ke rumah pnakan di Jagakarsa, Gandaria.

10 Jan 2014 hari ini judulnya bersenang-senang untuk diri sendiri dimulai dengan Jumatan di Cikini dilanjutkan nonton Soekarno dan Tenggelamnya Kapal Vander Wijk di XXI Metropole sampai akhirnya saya pulang sesudah magrib. Saya sholat magrib di musolla Universitas Bung Karno.


11 Januari 2014 akhirnya saya kembali bereuni dengan teman seperjuangan saya belajar di I/A/L/F Jakarta, supporter saya dalam mengejar beasiswa dan teman curhat segala keluh kesah beasiswa saya. Yah namanya Novie Leman. Kami janjian ketemu di Mall Taman Anggrek. Kami bereuni ria dan saling berbagi cerita selama ini. Puas sudah melepas rindu saya ke Pejaten Village ketemu Kakak saya.

12 Januari 2014 ke rumah ponakan di Bekasi dan hari itu hujan deras sekali dan Bintara daerah rumah ponakan ini mulai digenangi air saat saya meninggalkan daerah tersebut. Saya menunggu ojek dan tidak ada pula akhirnya di tengah derasnya hujan saya menerobos dan mencari angkot karena malam itu saya harus pulang ke Kampung Melayu untuk packing karena besok akan berangkat.   Alhamdulillah dengan berhujan-hujan menuju stasiun cakung menuju stasiun Jatinegara saya melanjutkan perjalanan malam itu. Basah kuyup sambil perjalanan malam itu di keretapun basah lantainya dan dingin pula karena AC. Sepertinya hari itu Jakarta pertanda banjir.


Malam itu saya tiba di kosan teman di kampung melayu dan packing dan istirahat untuk persiapan besok. Memang benar beberapa titik di Jakarta saat itu sudah tergenang banjir. Besok paginya listrik padam dan beberapa baju saya masih basah karena Minggu pagi saya mencuci dan sampai sekarang banjir.

Saya keluar ke depan untuk mencari beberapa item keperluan untuk kebutuhan ke Australia dan kabal sambungan yang saya butuhkan tidak ada di Alfa Mart. Itupun Alfamart buka setengah pintu saja karena lampu padam dan hanya memakai cara manual bayarnya dan menggunakan kalkulator lalu dicatat satu persatu.  Sepertinya saya harus berangkat cepat ke bandara hari itu karena beberapa ruas jalan sudah karena banjir. Bagian belakang masjid di Kampung Melayu sudah ditutup. Kasian sekali rasanya melihat keadaan seperti itu.

Setelah sholat dzuhur saya berangkat ke Bandara dari Kampung Melayu naik taksi menuju Gambir untuk mengambil Damri. Tiba di Bandara bertemu teman-teman awardee AAS lainnya kami check in. Alhamdulillah barang saya cuma 22 kg padahal untuk pesawat Qantas limit bagasi 40 kg. Setelah check in masuk ruang tunggu. Tepat pukul 19.30 kami diminta untuk masuk ke dalam pesawat karena pesawat akan segera berangkat. Kali ini pesawat yang kami gunakan adalah pesawat Qantas benar-benar tepat waktu dan debar-debar meninggalkan Indonesia sudah mulai terasa. Dan jam dan detik yang ditunggu itu datang juga terbang ke Australia menuju Sydney di tanggal 13 Januari 2014.


ALHAMDULILLAH




Jumat, 10 Januari 2014

12 Minggu Bersama My 3MB Classmates

Mengikuti English Academic Purpose (EAP) merupakan momen yang sangat mendebarkan. Mengapa tidak karena EAP merupakan pembekalan bagi awardee Australia Awards Scholarships (AAS) untuk mengikuti perkuliahan sekaligus pelatihan untuk meningkatkan IELTS sesua syarat masing-masing kampus tujuan. Terlepas dari kesibukan saat EAP, saya merasa beruntung ditemani 13 orang teman-teman dari berbagai daerah di nusantara yang membuat saya semakin merasa bersyukur hidup di negeri yang kaya budaya. Inilah dia teman-teman sekelas saya:


Teman saya yang pertama ini bernama Seluz Fahik, seorang asisten dosen bidang Matematika pada Universitas Nusa Cendana Kupang. Dikarenakan umurnya yang paling mudah diantara kami, diapun  sering menjadi korban bully teman-teman lainnya. Maklum kami adalah kumpulan orang-orang yang merindukan hiburan-hiburan segar dikala banyaknya deadline tugas yang harus diselesaikan. Hal yang menarik dari Seluz adalah kemampuannya mengatur waktu untuk menyelesaikan tugas-tugasnya tepat waktu dengan hasil yang memuaskan, ide-ide segarnya yang mengalir begitu saja serta seorang pendengar sejati. Ditambah lagi wajah manisnya membuat para jomblowati IALF terpesona dengan suara ala Marcell Siahaannya. Dia juga seorang blogger setia dengan menuliskan kreafitas di  blog pribadinya dan dia seorang mathematician gaul yang mampu membuat ilmu matematika gampang dicerna bagi kaum awam sehingga tidak salah apabila dia menjadi dosen profesional nantinya. He is so inspiring that I can eventually write for this blog.

Selanjutnya ketiga belas penghuni kelas 3MB EAP Denpasar I/A/L/F 2013 bisa dilihat di blog Seluz dengan judul 90 Hari Bersama Mereka










Selasa, 31 Desember 2013

Tips Wawancara Beasiswa Australia Awards Scholarships (AAS)

Tulisan ini saya persembahkan untuk sahabat saya yang akan mengikuti wawancara JST AAS untuk kedua kalinya di bulan Januari 2014.

Sudah banyak tips yang diberikan para penerima beasiswa dalam menghadapi wawancara beasiswa yang sangat bermanfaat, namun saya mencoba meramu beberapa persiapan yang saya lakukan sesuai dengan pengalaman saya ketika menghadiri wawancara AAS pada Januari 2013 sebagai berikut:

  1. Mencari informasi mengenai kemungkinan pertanyaan yang muncul saat wawancara. Hampir tiap hari saya membaca blog-blog penerima beasiswa semenjak dinyatakan masuk shortlisted. Banyak blog yang memberikan tips menghadapi wawancara JST sehingga saya memperoleh berbagai macam sudut pandang dan berbagai antisipasi jawaban yang bisa saya berikan saat wawancara. Saat itu saya membaca blog Bapak Andi Arsana dimana salah satu tulisannya mengenai prediksi pertanyaan wawancara JST. Saya print pertanyaan tersebut dan jawaban yang telah saya siapkan yang telah saya konsultasikan dengan rekan saya yang berasal dari Australia. Saya melatih diri menjawab pertanyaan tersebut dan mencoba menghafalkannya, walaupun dalam prakteknya saya melakukan improvisasi jawaban namun prediksi pertanyaan dan jawaban tersebut menjadi acuan bagi saya sehingga memudahkan ingatan saya.
  2. Menyiapkan folder khusus yang berisi tentang apa yang sudah saya lakukan untuk mengejar beasiswa AAS. Saya mendokumentasikan kegiatan volunteering saya dalam foto, tulisan saya yang dimuat di harian lokal, Surat Penerimaan dari kampus di Australia, daftar mata kuliah dari jurusan yang saya inginkan dari kampus di Australia. Hal ini menunjukkan ke pewawancara tentang keseriusan kita untuk mengejar beasiswa ini serta memberikan gambaran bahwa kita sangat mempersiapkan dengan baik untuk menghadiri wawancara JST.
  3. Saya menyiapkan baju khusus untuk wawancara ini. Bahkan saya meminjam dasi teman saya. hehehe. Tampillah serapi mungkin agar meninggalkan kesan bagi pewawancara.
  4. Sebaiknya tidur yang cukup pada malam sebelum wawancara karena belajarpun rasanya sudah tidak masuk lagi ke otak yang ada kita butuh refreshing karena selama ini sudah banyak belajar. 
  5. Pada hari wawancara usahakan datang sebelum waktu yang dijadwalkan. Hal ini bermanfaat agar mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Pada saat saya menghadiri wawancara AAS terjadi hujan yang sangat deras di Makassar banyak pohon yang tumbang sehingga mengakibatkan saya harus berteduh namun bersyukur kerabat yang mengantar saya memakai jas hujan sehingga bisa menerobosa hujan yang disertai angin kencang. Sampai-sampai saya harus memakai sandal jepit dan membungkus sepatu untuk wawancara dan saya pakai pada saat tiba di Unhas.
  6. Sebelum saya memasuki ruangan wawancara saya menelpon ibu dan keluarga di rumah memohon doa mereka. Paman dan adik saya mengirimkan doa setelah mereka melakukan sholat dhuha.
Wawancara biasanya dilakukan oleh dua orang terdiri dari 1 orang alumni beasiswa ADS dan professor dari universitas di Australia. Adapun hal-hal yang ditanyakan saat saya diwawancara yang masih sempat saya ingat diantaranya:

  1. I saw from your university transcript  that you got satisfied result then how did you overcome the challenge you faced during your undergraduate? Saya menjawab bahwa pada saat saya kuliah saya mengalami keterlambatan dalam mengikuti pelajaran di kelas dikarenakan karena kemampuan awal saya masih kurang. Saya mencoba untuk belajar lebih dari teman sekelas lainnya yang dimana kemampuan mereka sudah mumpuni. Adapun cara-cara yang saya tempuh yakni banyak berdiskusi dengan senior tentang apa yang saya alami. Bergaul dengan senior membuat saya banyak mendapatkan bantuan dalam menghadapi masalah akademik di kampus. Saya sampaikan bahwa, senior telah melewati proses akademik sehingga pengalaman mereka dalam menghadapi masalah itu sudah ada ketimbang saya berbagi masalah dengan teman sekelas saya dimana kami mungkin menghadapi hal yang sama.
  2. In your work what challenge do you face and how do you solve it? Tantangan dalam kerja yang saya alami adalah ide-ide saya yang sering belum bisa diterima oleh pimpinan. Saya menyadari bahwa hal ini menjadi kendala bagi PNS di tingkatan staf namun saya tidak berhenti sampai disitu saja. Saya mencoba tetap konsisten dengan ide-ide yang saya anggap benar dan mencoba mempengaruhi rekan sekerja saya.
  3. Tell me what have you made in your institution to make a better change and what was the result? Perubahan yang saya lakukan di institusi saya adalah masih berskala apa yang saya mulai dari diri saya sendiri. Mendisiplinkan diri sendiri seperti datang tepat waktu dan menunjukkan performa kerja yang baik sehingga akan memperlihatkan hasil yang baik dan bisa menjadi contoh sesama rekan kerja.
  4. related to your work, is there any program in your institution which you were involved and what was your responsibility? Saya menyebutkan salah satu kegiatan dalam pekerjaan saya dan tugas saya dalam kegiatan tersebut.
  5. How was your work being assessed if you said that your method is succesfull? and how far do you see the progress? keberhasilan dari metode itu dilakukan dengan mengevaluasinya secara berkala dan meminta tanggapan user apakah terjadi perubahan yang lebih baik
  6. Does your office work with the stake holders in order to get better result? ya. dan saya menyebutkan salah satu kerjasama yang kami lakukan
  7. I saw also that you participated in Australia Indonesia Youth Exchange Program, what is the benefit you found in that program? Ada banyak sekali manfaat yang saya peroleh melalui youth exchange program karena saya bisa menjadi jembatan atas perbedaan persepsi orang Indonesia tentang Australia begitupun sebaliknya. Secara pribadi hal ini sangat membantu saya dalam hal disiplin waktu dan pengalaman kerja di Australia
  8. what have you done in relation to your study plan in Australia? Saya melakukan initial research ke kampus yang saya tuju. Mempelajari mata kuliah yang ditawarkan di jurusan tersebut dan membandingkannya dengan universitas lain yang memiliki jurusan yang sama. Saya mendiskusikan apa yang saya butuhkan dan ingin pelajari di kampus tersebut dan memastikan beberapa hal dalam study saya. Saya juga mendiskusikan ke beberapa teman saya di Australia mengenai sistem pendidikan di Australia dan saya banyak terbantu dalam hal ini. Progress terakhir dari rencana study ini adalah saya sudah menerima surat penerimaan di salah satu kampus di Australia.
  9. Why do you choose this campus? saya memilih jurusan X di kampus X karena saya sudah membandingkan jurusan yang sama di kampus yang berbeda saya menemukan mata kuliah di kampus pilihan saya ini lebih mengikuti kemajuan saat ini dan memang dibutuhkan oleh instansi saya.
  10. Did you compare it to other campus in Australia? iya
  11. Why do you need to take this master program in Australia? karena jurusan yang akan saya ambil sangat dibutuhkan oleh institusi saya karena......... Disamping itu, jurusan ini belum ada di Indonesia sehingga.................
  12. why do you choose in education sector? Saya bekerja di sektor pendidikan adalah passion saya. Saya sangat menyukai mengajar walaupun tanpa bayaran. Saya telah berpindah tempat bekerja dengan berbagai profesi sebelum akhirnya bekerja sebagai pengajar dan saya menemukan bahwa saya memang dilahirkan untuk menjadi pendidik
  13. why do you think we need to give you this scholarship comparing to other participants who work in the same sector with you and why we have to choose you? Saya bekerja dengan passion saya, jurusan yang akan saya ambil sangat dibutuhkan oleh institusi saya dan memang belum ada di Indonesia. 
Berikut rangkaian perjalanan wawancara JST AAS saya pada bulan Januari 2013. Semoga tulisan ini bisa membantu dan selamat mempersiapkan wawancara.

Salam,

Khairullah

Senin, 23 Desember 2013

12 Minggu Pre-Departure Training Australia Awards Scholarships, I/A/L/F Denpasar


"Kupikir setelah dinyatakan lulus beasiswa Australia Awards maka saatnya santai-santai ternyata itu baru pintu pertama sebuah perjuangan besar"


Bali 15 Juli - 18 Oktober 2013 Indonesial Australia Language Foundation I/A/L/F

Masa Penantian EAP bagi awardee adalah bagian yang mendebarkan mengapa demikian karena disinilah perjuangan awal kami baru dimulai setelah dinyatakan lulus oleh pihak Ausaid dan kami harus menghadapi EAP dengan target IELTS sesuai kampus masing-masing. Ada tanda tanya besar bagaimana teman sekelas kami, tentu mereka hebat-hebat dan bagaimana bisa survive dalam lingkungan pembelajaran gaya Australia. semua bercampur aduk hingga saya tiba di Denpasar tanggal 11 Juli 2013 yang bertepatan dengan hari ketiga bulan puasa.

Pengalaman selama 12 minggu mengikuti Pre-Departure Training atau biasa juga disebut English Academic Purpose (EAP) di IALF Bali akan saya tuliskan disini. EAP berisi pemberian pembengkalan kepada calon penerima beasiswa Australia Awards atau biasa disebut awardee berupa persiapan kuliah di Australia bagaimana menulis paper, melakukan library research dan pengenalan komputer dan pelatihan IELTS. Mengenai pengenalan komputer bukanlah hal yang sepele karena banyak ilmu yang saya dapatkan disana diantaranya bagaimana cara membuat table of content yang dulu saya lakukan secara manual sehingga hasilnya sering berantakan.

 Setiap hari dari Senin sampai Jum'at kami belajar di kelas selama 4 jam. Dua jam untuk EAP dan dua jam lagi untuk pelatihan IELTS. Penentuan lamanya EAP seorang awardee ditentukan oleh hasil JST Australia Awards Scholarship (AAS). Untuk IELTS 5 akan mendapatkan pelatihan selama 9 bulan, untuk IELTS 5.5 selama 6 bulan dan untuk IELTS 6 selama 3 bulan. Sementara untuk awardee yang mendapatkan nilai 6.5 keatas hanya mendapatkan EAP 8 minggu tanpa tes IELTS lagi. 



Tugas-tugas mengenai penulisan paper kuliah ala Australian University adalah hal yang diajarkan dan kita juga harus memenuhi persyaratan IELTS sesuai permintaan kampus yang akan kita tuju di Australia. Jadi jangan bayangkan EAP itu sejenis pelatihan yang cuma masuk kelas dan setelah itu bisa jalan-jalan di Bali. Salah besar, selama EAP saya nyaris berkutak-katik  di kos, kelas dan perpus.  Terkadang saat akhir pekan karena banyaknya tugas yang menjadi tanggung jawab kami sebagai awardee mengharuskan kami menyelesaikannya. Kadang hendak tidak mengerjakan tugas tapi kembali saya sadar bahwa saya harus mencapai target IELTS universitas dan paper-paper tugas juga sangat menunjang kuliah kami nantinya di Australia. Kalau saat EAP saja saya belum bisa mengerjakan paper-paper tugas tersebut besar kemungkinan akan berdampak ke performa saya di Australia.

Hari-hari pertama saya mengalami 'ketegangan' hebat saya sempat mual-mual mungkin karena pengaruh maag kumat. Tidak biasanya saya sampai muntah-muntah. ini mungkin karena saya masih mengalami penyesuaian dengan gaya belajar di IALF. Ketika belajar di IALF ritme hidup saya berubah dan berjalan cepat. Waktu serasa cepat berlalu dengan mengerjakan tugas. Bangun pagi setelah solat subuh saya langsung mengerjakan tugas nyaris waktu saya hanya habis untuk belajar seharian hingga berakhir belajar jam 11 malam. Tidur pun dalam keadaan dalam 'tekanan' karena mungkin tugas yang belum sempurna atau takut ada lagi tugas yang ketinggalan. Saya selalu was-was jika ada tugas yang belum dikerjakan dan saling kami-kami menginfokan tugas apa besok.

Saya masuk di kelas 3 bulan yang merupakan kelas yang paling 'tough' menurut saya karena materinya sangat padat walaupun kelas 6 dan 9 bulan juga akan tetapi menurut petuah dari Manager IALF saat pembukaan bahwa kelas 3 bulan jangan menunggu pemanasan gigi 1 dulu baru gigi 2 tapi harus langsung gigi 4. Sehingga saya yang termasuk slow learner sempat 'keteteran' soal tugas-tugas yang diberikan. Namun berkat berjalannya waktu saya dapat menjalani EAP dengan baik semua karena kekuatan yang diberikan Allah lewat teman-teman sekelas yang sangat supportive dan guru saya Mr. Jerry Cross yang bersedia mendengar keluh kesah serta memberikan solusi untuk masalah saya dalam belajar. Thanks Allah I feel so lucky being with my 3MB mates.

Paper merupakan tugas yang belum familiar bagi saya secara waktu S1 saya terus terang sangat minim pengalaman menulis paper ditambah lagi skripsi saya masih sadur sana sadur sini. Saya sangat berharap semoga dengan EAP saya bisa belajar meski dari nol untuk menulis. Dibanding teman sekelas lainnya saya merasa sangat tertinggal.


Nah ketika sedikit merasa kurang motivasi belajar maka saya melihat perjuangan teman-teman lainnya, yah ada teman saya seorang ibu yang baru melahirkan beberapa bulan dan mengurus bayinya di sela-sela jadwal pelajaran yang padat. Ada banyak cara mengecas kembali semangat dan saya bersyukur teman-teman sekelas saya bersedia menuntun saya dengan sangat sabar. Saya juga melihat suasana kelas kami saling mendukung satu sama lain bukan berkompetisi untuk pribadi ketika ada ada anggota teman lain yang tertinggal teman-teman yang lain membantu. 

  • Saya masih ingat bagaimana Mbak Nunik menjelaskan kepada saya tentang materi 'extol the virtue' dimana saya selalu dapat langganan kena 'semprot' guru di kelas karena saya selalu salah menggunakannya.
  • Mbak El dengan sabarnya memeriksa draft discussion paper saya dimana saya masih sibuk mengedit bibliografi sementara deadline sudah hitungan menit.
  • Bagaimana mbak Wulan menemani Bea sampai malam di RC padahal mbak Wulan punya bayi di kosan. Saya sangat terharu saat itu dan mbak Wulan minta pamit karena tiba-tiba saya datang ke RC sehingga saya bisa membantu Bea.
  • Bagaimana Mbak Dila membantu Pak Adi memperbaiki referencenya saat diminta sama guru di kelas untuk diperbaiki lagi.
  • Bagaimana mbak Wina membatu kami (saya dan mbak Nunik) tentang teknik presentasi meskipun waktu itu mbak Wina sedikit tidak puas dengan penampilannya tapi dibalik semua itu dia rela mengajarkan ilmunya kepada kami dan kami bisa lebih baik presentasi di depan kelas. 
  • Bagaimana Pak Jacob meminjamkan hasil writingnya kepada saya dan waktu itu dia yang mengantarkan ke kosan saya. Luar biasa pak Jacob saya yang butuh malah pak Jacob yang antarkan. Saya juga rajin minta trik writing dari Pak Jacob karena beliau ini sangat rajin mencari informasi soal IELTS di internet dan beliau selalu senang membagikannya dengan teman-teman lainnya.
  • Mbak Enny yang membantu saya di dalam study group kami (Mbak Wain, Herul, dan Mbak Enny). I am lucky meeting you mbak Enny...
  • Aku selalu meminjam semangat dari Eci kalau saya lagi lobet karena tumpukan buku di meja belajarnya ruar biasa.
  • Gaya santainya pak Edi selalu menjadi kenangan teman sekelas.
  • Kalau Seluz selalu lincah, penuh energi, dan tugas selalu tepat waktu.
  • Dan masih banyak lagi kenangan-kenangan 'tercecer' saat EAP.
Nah untuk cakupan materi selama EAP yakni internet literacy, computer skill, cross culture class yakni sekilas pengenalan kebudayaan Australia, Skype class biasanya 60 menit dengan pihak Australia Award staffs dimana kita bisa menyampaikan pertanyaan seputar proses persiapan study di Australia, presentasi dari pihak kampus Australia hal ini cukup menarik karena kami bisa melakukan interaksi dengan utusan kampus tertentu di Australia jadi beruntunglah bagi yang kampus tujuannya datang presentasi. Adapun kampus yang sempat presentasi saat EAP adalah Flinders University, University of Adelaide, Carnegie Mellon University.



Bagi saya kelas yang paling menyenangkan adalah Cross Culture Class karena kelasnya sangat menyenangkan dengan mengetahui informasi tentang Australia dan pengajarnya sangat profesional untuk membuat kita lebih aktif berbicara dan bertanya tentang berbagai hal yang akan kami hadapi nantinya di Australia.

Dibalik sibuknya kelas EAP dan tugas-tugasnya, kami pun harus pandai-pandai membagi waktu demi sebuah liburan dimana satu hari kami bisa semangat menyelesaikan tugas dengan cepat. Inilah dia sang koordinator trip yah Mbak Nunik yang selalu menjadi travel planner kami. Kami semua yang serius dengan tugas bisa teralihkan berfikir jalan-jalan kalau dengan mbak Nunik.


Di sela malam-malam penuh tugas kami juga sering mengunjungi kost-kostan teman lainnya. Kami mengistilahkan sidak kecil-kecilan. Malam itu saya dan mbak Nunik memulai sidak ke kostan Echy, selanjutnya Echy kami giring pula ke kost mbak Wina yang kebetulan tinggat satu kosan dengan pak Edy dan pak Ady selanjutnya sidak kami berakhir ke kosan pak Jacob dan bu Enny. seru sekali malam itu.

Serunya menjadi awardee AAS saat kami menetap, ngekos, dan belajar di IALF BALI. Kebersamaan itu selalu terkenang meskipun saat berangkat ke Australia kami di kota berbeda. Mbak Enny, Mas Adi, Mbak Wulan dan saya di Adelaide. Seluz, Mbak Wina, Ingsie, Pak Edy, Mbak Dila, Mbak Nunik di Melbourne. El dan Ecy di Quensland. Pak Jacob sendiri dimana tuh Toowomba yah...














My Study Group - Enny and Wina



After Skype Session with AAS Team


Study Study and Study in favorite place in RC


Holiday, a trip to Bedugul with my 3MB mates


wonderful trip at Tana Lot


WIth Jerry Cross (My amazing and dedicated teacher) and Vlad (Manager IALF Bali) Closing Ceremony of EAP for 3 & 6 Month Group
All 3 Monthers group
Add caption

3 MB members before performing at Australian Consulate, Denpasar
3 M B with the teacher


AAS 3MB with a teacher, IALF team and Australia Awards team

A pose in front of IALF Audiotorium


Gerakan Donasi Penghafal Qur'an Yatim / Berprestasi

Bismillah THE VOLUNTEERS adalah komunitas yang bergerak dalam dunia Islam dan kemanusiaan. Kali ini kami memperkenalkan program kami khusus...