Tampilkan postingan dengan label Mental Health - Disability Awareness. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mental Health - Disability Awareness. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Februari 2018

stigma yang salah tentang Bipolar


ini adalah kejadian dan pengalaman yang saya alami sendiri bagaimana pandangan orang dan termasuk saya sendiri tentang bipolar yang saya idap karena kurangnya pengetahuan maka dari itu saya selalu meletakkan bipolar saya sebagai sebuah kotak yang berada di depan saya untuk di pelajari, diamati, dan didampingi.
* Bunuh diri karena kurang iman
* Depresi karena kurang shalat
* Cemas karena kurang sujud dalam shalat
* malas karena....
* tidak bertanggung jawab karena....
* suka bikin sensasi karena.....
* tidur berlebih karena ......
padahal dua fase yang terjadi pada individu bipolar yang membuat kadar dopamin di otak berkurang dan berlebih dmana pada orang normal tidak terjadi kekurangan dan kelebihan.
Hal inilah yang membuat individu bipolar kadang menjadi malaikat dan kadang menjadi iblis. Jika Anda tidak memahami maka Anda akan ikutan jadi iblis juga karena saya sudah tahu bahwa saya kadang jadi iblis dan kadang jadi malaikat karena masalah dopamin itu bukan karena cari sensasi
situ waras?

Saya Mengidap Gangguan Cemas (Bipolar) Alasan Utama Saya Meninggalkan Kementerian Luar Negeri





Keluar dari Kementerian Luar Negeri, butuh pemikiran panjang dan waktu yang lama hingga saya berhasil menuliskan catatan ini. Ada beberapa alasan yang mengharuskan saya menulis catatan ini. Pada awalnya, mungkin hanya keluarga dan teman terdekat saya saja yang berkepentingan untuk mengetahui alasan detil mengapa saya meninggalkan Kementerian Luar Negeri, namun seiring waktu saya sadar dan faham bahwa adalah sebuah kewajaran jika orang ingin mengetahui alasan tersebut dikarenakan tempat kerja yang telah saya tinggalkan merupakan impian dari puluhan ribu anak di negeri ini. Ada sebuah tanggung jawab moral mengapa saya menuliskan catatan ini, karena ada banyak harapan yang diamanahkan kepada saya pada saat memilih berkarir di Kementerian Luar Negeri.

Alasan utama saya meninggalkan Kemlu karena saya telah menemukan bahwa passion saya bukan disana dan keputusan tersebut dibuktikan dengan hasil dan diskusi comprehensive dengan psikolog dan psikiater. Mungkin bagi sebagian orang hal tersebut berlebihan namun saya menginginkan dalam pengambilan keputusan benar-benar terlepas dari intervensi pihak yang berkepentingan sehingga Kemlu dan saya akhirnya memberikan wewenang kepada Tim Dokter untuk menganalisa kejadian yang saya alami yang akhirnya menyampaikan segala kemungkinan apabila saya tetap bertahan di Kemlu begitupun sebaliknya.

Dan pada akhirnya Hidup adalah Sebuah Pilihan, teman saya pernah berkata tak ada kemenangan yang sejati dalam hidup. Terkadang kita berhasil dalam sesuatu hal tetapi ada bagian lain yang harus kita lepaskan. Saat memilih berkarir sebagai diplomat di Kemlu saya bak memenangkan sebuah pertarungan hebat namun di sisi lain saya melepaskan kehidupan saya bersama keluarga tercinta di Palu, teman dan sahabat yang pada akhirnya saya tidak bisa memenangkan dan mendapatkan semuanya. Sungguh bukanlah hal yang mudah untuk meninggalkan pekerjaan sebagai diplomat namun saya harus jujur dan berani bahwa saya tak menemukan passion saya disana. Memilih untuk keluar dengan sebuah konsekuensi dikepung dengan berbagai pertanyaan dan rasa heran dari berbagai pihak terkait keputusan ini.

Saya menyadari bahwa pada dasarnya tidak ada yang salah dengan pertanyaan dan keheranan tersebut. Di negeri ini siapa yang tidak mengenal Kementerian Luar Negeri, harus diakui bahwa tempat tersebut adalah impian ribuan orang di negeri ini, pekerjaan yang baru saya tinggalkan memiliki nilai kehormatan tinggi. Bahkan sahabat, sepupu dan adik-adik saya adalah orang-orang yang memiliki keinginan untuk berkarir di Kemlu. Sungguh bukan hal mudah memberi mereka alasan, bagaimanapun pasti mereka kecewa.

Kerap kali saya berhadapan dengan orang-orang yang begitu bersemangat dan penuh gairah untuk meraih mimpi mereka berada di tempat tersebut, bagi mereka menjadi diplomat seolah menjadi satu-satunya cita-cita yang pernah ada dalam hidup. Saya pun menyadari bahwa keputusan yang telah saya ambil sedikit banyak telah membuat mereka kecewa. Namun, siapapun itu harus bisa menghargai ketika ada orang lain yang lebih memilih jalan hidup yang mereka anggap pantas bagi mereka. Saya hanyalah orang yang mencoba memandang hidup bahwa ada hal yang jauh lebih berarti dibandingkan sebuah kehormatan dan nilai prestisius lainnya, yakni kesehatan jiwa dan kelangsungan hidup yang lebih baik, inilah alasan utama sehingga saya menempuh proses panjang tanpa lelah.

Harus berani saya katakan bahwa KEMLU dan JAKARTA bukanlah tempat yang bisa menjamin kedua hal tersebut bagi saya. Ada hal-hal yang menjadi prioritas dalam hidup saya yang tidak akan tergeser oleh kepentingan apapun. Semoga pernyataan ini turut pula menjawab rasa penasaran dari beberapa pihak dan saya berharap bisa diberikan pemakluman dari semuanya.

Keputusan untuk meninggalkan KEMLU adalah sebuah proses panjang dan berliku, hampir 2 tahun saya berjuang untuk sebuah “kebebasan” saya, sungguh bukan hal yang mudah. Diawali bagaimana meyakinkan diri saya sendiri bahwa ini adalah langkah yang terbaik bagi saya yang harus saya ambil, lantas bagaimana saya harus bertanggungjawab kedepannya, bagaimana saya harus beradaptasi dengan proses birokrasi yang lumayan rumit, sampai pada bagaimana saya harus menghadapi pertanyaan dan keheranan orang-orang pun tak luput dari pertimbangan saya.

Alhamdulillah Allah masih menunjukkan kebesaranNya lewat berbagai kemudahan dan kelancaran dalam proses ini .

Dulu seorang sahabat pernah berkata bahwa dibutuhkan keberanian tak hanya untuk maju berperang, namun keberanian dibutuhkan saat harus berkompromi pada diri sendiri tentang bagaimana semestinya kita mencari bahagia itu sendiri. Tak ada yang salah dengan KEMLU, hanya sayalah yang TAK tepat untukMU. Saya yakin kamu masih pantas menjadi impian bagi ribuan anak negeri ini. Kau telah menjadi salah satu “guru” kehidupan saya untuk diterapkan di kemudian hari. Didikanmu adalah sebuah pengalaman emas yang sangat bernilai, pernah menjadi bagian dariMU adalah sebuah syukur pribadi pada Allah.

Saya pun menyadari bahwa Tuhan mengatur kehidupan ini pada titik mana kita pantas untuk berdiri, bersabar, bersyukur, hingga berpindah agar kita bisa belajar menemukan kebahagiaan sebagai sebuah proses yang terhargai. Bersyukur atas nikmatNya bukanlah sikap pasif melainkan berusaha menemukan solusi terbaik namun dalam proses pencarian tersebut kita patutlah selalu bersabar. Inilah proses yang memberi saya pelajaran berharga dalam hidup.

Dan pada akhirnya saya memutuskan untuk “pulang” dan mohon doa agar bisa berbakti bagi bangsa dan Negara tercinta. Bakti cinta dan pengabdian saya pada negeri ini akan terus bertambah subur lewat pengabdian di masa mendatang. Terima kasih KEMLU 😇

Saya dan Gangguan Bipolar

Didiagnosis dengan gangguan Bipolar pada 2013 menjelang keberangkatan sekolah ke Australia karena adanya dorongan bunuh diri tanpa sebab di Pulau Dewata, Khairullah Herul Abdul Razak vokal menyuarakan perjuangannya hidup dengan depresi berat, gangguan mood swing berubah drastis dalam waktu singkat, dan kemauan untuk menyakiti diri sendiri.
Sebelum didiagnosis, Herul menghabiskan banyak waktunya dalam kesedihan, mengurung diri. Kadang, bahkan tak ada kemampuan untuk bangun dari tempat tidur. 
Dalam beberapa kasus, diperlukan bertahun-tahun sebelum bipolar diidentifikasi dengan benar. Herul pun mengalaminya. Dalam masa beratnya sebelum didiagnosis, teman-teman dan keluarganya mengatakan bahwa ia hanya depresi, dan karena kekurangtahuan Herul dan orang-orang terdekat, fase manik tidak dikenali. Jutaan orang lain pun sama, tidak mengenali fase manik.
Dalam periode manik, Herul bisa tidak tidur hingga jam 2 pagi sambil menulis, banyak tulisan bisa dituliskannya dalam semalam. Pada fase ini, pikirannya tidak pernah diam. Ini adalah gejala umum bipolar disorder. 
Setelah didiagnosis, Herul lega. Menyadari bahwa gangguan bipolar bisa diobati dan diterapi. Bahwa tidak ada yang salah dengan dirinya, emosi dan tindakannya juga adalah karena faktor ketidakseimbangan kimiawi otak,
Pemulihan tiap hari. Herul terus melangkah, memahami hidup dengan gangguan bipolar. Dibutuhkan sabar dan usaha yang berkelanjutan. Jiwa bukan mesin, yang bisa sehari diperbaiki. 
"Saya sangat bersyukur atas hidup saya hari ini. Tidak mudah untuk selalu mengambil langkah positif setiap hari, tapi saya tahu saya harus tetap sehat. 

Jika Anda sedang berjuang dengan kondisi kesehatan mental, Anda mungkin belum bisa melihat dengan jernih, tapi, Tolong jangan menyerah. Semua akan menjadi lebih baik. Anda berhak untuk dapatkan hal-hal baik, Dan banyak orang yang bisa menolong. Meminta pertolongan orang lain adalah tanda kekuatan."

Blak-blakan tentang Bipolar


Mengapa saya bersuara tentang Gangguan Bipolar yang saya idap karena ada banyak pertimbangan yakni:
1. Dibutuhkan waktu lebih dari 7 tahun dalam penanganan dokter jiwa dan psikolog hingga baru bisa ditemukan kalau saya mengidap bipolar;
2. Stigma tentang Bipolar atau gangguan mental lainnya bagi masyarakat umum yakni: kurang iman, kurang shalat, kurang bersyukur, aib dan masih banyak stigma lainnya yang harus pelan-pelan dicerahkan pada masyarakat bahwa ini tentang gangguan di otak bukan tentang perasaan yang dibuat-buat atau prilaku dilebay-lebaykan;
3. Saya ingin suatu saat nanti orang-orang dengan gangguan jiwa bisa mengakses bantuan profesional, kita bisa berbicara dengan jujur apa yang kita alami tanpa dihakimi, dan lingkungan sekitar teredukasi dan sadar tentang gangguan jiwa;
4. Ketika memiliki gangguan, masyarakat bisa tahu kemana mencari bantuan karena "Mereka yang datang meminta bantuan profesional; sadar kalau ada hal dalam diri mereka harus diperbaiki";
5. Senyawa kimia yang tidak seimbang di otak yang membuat individu dengan bipolar mengalami mood yang berubah drastis, depresi dan maniac (bahagia dan semangat berlebih) tanpa sebuah sebab. Layaknya jika mengidap sakit jantung maka kita akan memilih perawatan yang tepat, begitupun dengan bipolar.
Dalam hal ini saya tidak merasa kurang, hancur, dan memalukan dengan mengidap bipolar!

Selasa, 12 Desember 2017

Menuliskan Cerita Hidup sebagai Cara Mengambil Pelajaran untuk Menemukan Tujuan Hidup


= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Setiap orang punya cerita hidup, namun kemampuan menuliskan cerita dengan mengambil pelajarannya tak semua orang bisa. Berbagi cerita, menginspirasi orang lain, dan mengambil hikmah adalah salah satu sarana menemukan tujuan hidup. 
Cerita hidup yang kita jalani sendiri lalu kita tuliskan dalam berbagai bentuk lalu kita refleksikan ke dalam diri sendiri hingga mampu mencapai hikmahnya. Hal ini bisa memberikan kejelasan bagaimana diri kita menjalani hidup hingga menjadi seperti saat ini. Hidup setiap manusia tak hanya dibatasi dengan serentetan kejadian dan peristiwa namun manusia bisa menambahkan sebuah sisi positif dari suatu kejadian, mengartikan apa pelajaran di balik sebuah kejadian, dan menuliskannya kembali meskipun ada konflik dan kejadian tak mengenakkan disana. 
Adalah dr. Hendryk Timur, MM, MARS seorang dokter pengidap Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD) yang saat ini menjadi konsultan untuk anak dengan ADHD sebelum menyadari sebuah hikmah dibalik ADHD yang diidapnya dimana ia bekerja di sebuah rumah sakit hingga karirnya, rumah tangga, dan pertemanan tak berjalan dengan baik lalu memutuskan untuk mencari solusi dari apa yang diidapnya. 
Dia mengakui bahwa dirinyalah sumber konfliknya selama ini lalu dia memperbaiki diri dengan berhenti menjadi dokter di rumah sakit lalu membangun institusi sendiri yang bisa membuatnya berdamai dengan ADHD yang diidapnya, membangun rumah tangga baru, dan semuanya telah kembali terkendali hingga kini dia telah pakar di bidang ADHD.
Menuliskan cerita hidup bukanlah hal gampang atau pekerjaan yang bisa dilakukan dalam semalam dan semudah membalikkan telapak tangan. Dengan sebuah musibah kita kadang mengatakan dulu hidup saya baik dan kini telah tertimpa musibah adalah sebuah langkah yang kian memperparah keadaan yang bisa membuat kita tertekan.
Itulah juga saya dulu yang menyalahkan keadaan saat divonis dokter mengidap gangguan cemas (bipolar) namun seiring waktu saya mengubah cerita hidup saya menjadi 👇
"sebelum dideteksi bipolar hidup saya tak ada makna dan tujuannya, dulu saya seorang yang ambisius untuk diri sendiri, gemar menghamburkan uang ke dalam hal sia-sia dan berbau dosa dan kini saya menjadi lebih baik, saya mulai mementori orang lain untuk beasiswa, tempat curhat orang-orang dengan karir dan makna hidup, saya terjun dalam dunia sosial, hingga berbagi kepada sesama, dimana hal tersebut mungkin tak saya lakukan jika hidup saya baik-baik saja".
Melepaskan sebuah kisah yang kita anggap buruk dengan sebuah kebaikan di dalamnya akan menenangkan secara psikologis. Hal yang membuat saya mengubah cara menyampaikan cerita saya adalah dengan terapi, counseling dengan counselor dan mentor.
Saya yakin Anda bisa melakukannya sendiri dari apa yang hilang dan apa yang Anda dapatkan. Inilah yang dilakukan oleh dr. Hendryk dan saya, mengubah cara menyampaikan kisah hidup. 
kita semua berjuang dan "korban" dalam hidup ini. Mengubah cara melihat sebuah kejadian tak mengenakkan dalam hidup dan mengambil sebuah hikmah bukanlah perkara sehari dua hari, ada yang bertahun-tahun melakukannya hingga berproses dalam penerimaan diri dalam menerima sebuah kejadian. Hal ini jelas tak mengenakkan namun dengan rasa syukur akan membawa kepada kedamaian hati dan seseorang bisa menjadi bijak dan menemukan sisi baik dari masalah hingga membuat kita bertahan 😇🙏
======================================
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216).

Seni Menentukan Tujuan Hidup


Menemukan tujuan dalam hidup ini tidaklah sama dengan mencari pekerjaan. Beberapa orang harus melalui proses panjang dan berliku bahkan ada yang hidup tak menemukan tujuan hidupnya hingga akhir hayat. Menemukan tujuan hidup ini bukanlah hanya sekedar menemukan sesuatu yang membuat kita senang dan bahagia. Ini adalah menggali yang terbaik dari diri sendiri dari apa yang paling kita inginkan dalam hidup ini lalu memberikan yang terbaik untuk kehidupan. 

Orang tua menemukan tujuan hidupnya dengan mendidik anak, seorang guru memiliki tujuan mencerdaskan siswa, pendakwah ingin menyebarkan kebaikan kepada orang lain, seorang dokter menemukan tujuannya dengan mengobati pasien. 
Kunci utama adalah menggali yang terbaik dari diri untuk melayani orang lain. Banyak dari kita mencapai tujuan hidup melalui pekerjaan dimana kita merasa ingin berdedikasi dan dibutuhkan namun bagaimana jika kita tidak menemukan ketenangan dalam pekerjaan termasuk tidak merasakan ikatan rasa memiliki dalam pekerjaan?
Sulitnya mendapatkan pekerjaan, hingga isu PHK dan gaji menjadi bahasan tersendiri. Nah jika manusia dalam menjalani aktifitas tanpa sebuah tujuan maka akan merasa jenuh dan hampa. Kita tak perlu menemukan tujuan tersebut dalam pekerjaan namun tujuan hidup memberikan kita alasan untuk tetap bertahan hidup menjalani hari-hari dan mendorong kita untuk tetap semangat untuk maju. 
Merasakan adanya kekuatan lain yang menggerakkan semesta ini dan adanya yang mengawasi kita secara utuh dalam kehidupan kita salah satu cara terkontrol dalam tujuan hidup. Ada yang merasakan hal tersebut saat berada dalam sujud dalam shalat, ada yang merasakan saat memberi kepada sesama, ada yang merasakan hal tersebut saat sendiri yang biasa disebut tafakkur dalam Islam, dan ada pula yang merasakan hal tersebut dengan bermeditasi serta menyepi. 
Inilah mungkin cara-cara menemukan tujuan hidup sehingga hidup lebih bermakna 😇

Rabu, 06 Desember 2017

Merasa Memiliki dan Bertanggung Jawab : Sebuah Cara Menemukan Tujuan Hidup

Merasa Memiliki dan Bertanggung Jawab : Sebuah Cara Menemukan Tujuan Hidup
===========================================
Setelah saya menemukan bahwa ada hal yang jauh lebih penting daripada menjadi bahagia lalu saya memutuskan menekuni dan mempelajari tentang apa yang lebih penting daripada bahagia karena di sebuah ujungnya bahagia itu di luar kontrol manusia kerena siklus hidup ada bahagia dan sedih dan sebuah tujuan hidup membuat tetap kuat dalam mengarungi hidup. Saya mencari orang-orang yang memiliki tujuan hidup dan mewawancarai hingga mengejar mereka dan saya menemukan satu hal yakni rasa memiliki dalam sebuah ikatan dan tanggung jawab.
Saya tidak akan menemukan tujuan hidup jika hanya mengandalkan kebebasan semau saya dan tidak mengikatkan diri dalam sebuah tanggung jawab. Saya membaca ratusan lembar buku psikologi, pengembangan diri, tentang tujuan hidup, dan filsafat.
 Merasa memiliki dalam sebuah ikatan dengan menghargai diri secara mendalam dan menghargai orang lain. Kebanyakan orang mengikatkan diri dalam sebuah hubungan keluarga, anak-orang tua, adik-kakak, suami-istri. Rasa ini muncul dari sebuah cinta yang diikat oleh tanggung jawab untuk berbagi terhadap individu dan tiap orang bisa memilih dengan siapa mengikatkan diri dalam sebuah tanggung jawab dan memupuk rasa tersebut.
Sebuah inspirasi tentang hal ini saya dapatkan dalam sebuah iklan asuransi yang sangat viral di sosial media dari seorang anak muda di Thailand yang tiap hari memberi uang kepada seorang ibu yang kurang mampu, memberi bantuan kepada ibu penjual keliling dengan mengangkat lapak jualannya, hingga menaruh makanan di depan pintu rumah seorang ibu tua.
Apakah seorang lajang tidak bisa mengikatkan diri terhadap orang lain yang membutuhkannya? Atau kita balik pertanyaannya apakah setiap individu yang telah memiliki pasangan sudah mengikatkan diri dalam sebuah ikatan dan tanggung jawab? Rasanya terlalu pendek sudut pandang kita jika hanya mereka yang telah memiliki pasangan yang bisa merasakan ikatan tersebut. 
Hubungan ini pun harus dipelihara karena bisa memudar. Tanpa disadari kadang kita melukai orang yang telah mengikatkan diri kepada kita dengan sebuah pengabaian termasuk mengabaikan mereka saat mereka membutuhkan nasehat, kita dengan sibuk mengutak atik ponsel cerdas, berbicara sepintas lalu kepada mereka, tidak bertegur sapa kepada mereka yang telah tersenyum kepada kita. 
Saya menyadari amat sering mengabaikan mereka yang berada dalam ikatan tanggung jawab saya. Hal-hal seperti ini membuat individu terasa tidak dihargai dan dianggap tak ada. Ketika hidup dengan cinta, kita bisa menghargai orang lain sepenuh hati dalam sebuah ikatan dalam keluarga dan pertemanan. Ikatkanlah diri dengan individu untuk sebuah tanggung jawab yang membuat kita menemukan tujuan hidup! 🙏😇❤️
[Bukhari : 6605] ketahuilah Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang di pimpin, penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, dan isteri pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga…

Gerakan Donasi Penghafal Qur'an Yatim / Berprestasi

Bismillah THE VOLUNTEERS adalah komunitas yang bergerak dalam dunia Islam dan kemanusiaan. Kali ini kami memperkenalkan program kami khusus...